
Bandung, 23 Juli 2026 – Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerima permohonan pendampingan konsultasi pengembangan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bravensia dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 1 FPOK UPI, Kamis (23/7). Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FPOK UPI Prof. Komarudin, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan Dr. Dian Budiana, M.Pd., para dosen FPOK UPI, serta Asep Supardi, S.E. beserta tim dari Bravensia Selaras Mandiri. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra dalam mengembangkan sistem pembinaan sepak bola usia dini yang berbasis ilmu pengetahuan dan sport science.
Kegiatan pendampingan konsultasi ini merupakan implementasi komitmen FPOK UPI dalam menjembatani kepakaran akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan olahraga prestasi. Melalui forum diskusi dan berbagi pengetahuan, FPOK UPI memberikan masukan strategis kepada manajemen SSB Bravensia mengenai pengembangan kurikulum pembinaan, standarisasi operasional berbasis sains olahraga, manajemen gizi atlet, hingga sistem pencegahan cedera yang terintegrasi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas pembinaan atlet usia dini secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan FPOK UPI, Dr. Dian Budiana, M.Pd., menegaskan pentingnya dokumen kerja sama sebagai instrumen rekognisi institusional sekaligus fondasi pengembangan kemitraan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembinaan olahraga. Menurutnya, kolaborasi antara FPOK UPI dan SSB Bravensia menjadi wadah untuk mengintegrasikan pengalaman praktis di lapangan dengan teori dan hasil kajian ilmiah yang dimiliki sivitas akademika FPOK UPI.
Pada kesempatan tersebut, pihak SSB Bravensia memaparkan perkembangan konsep pembinaan “Bravensia Way” yang telah diterapkan sejak tahun 2018. Saat ini, SSB Bravensia membina sekitar 295 peserta didik yang terbagi ke dalam fase grassroot (6–10 tahun), youth development (11–14 tahun), dan high performance (15–18 tahun). Manajemen SSB juga menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk kebutuhan akan dukungan data ilmiah dalam meningkatkan kualitas pembinaan serta menjawab ekspektasi orang tua terhadap perkembangan atlet muda.
Dekan FPOK UPI, Prof. Komarudin, M.Pd., dalam arahannya menekankan bahwa pembinaan atlet usia dini harus berorientasi pada pembangunan fondasi gerak dan perkembangan jangka panjang, bukan semata-mata mengejar prestasi instan. Menurutnya, rentang usia 8–12 tahun merupakan fase penting untuk memperkaya kemampuan gerak (movement enrichment) sehingga diperlukan pendekatan pembinaan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak serta meminimalkan risiko cedera akibat spesialisasi olahraga yang terlalu dini.
Sesi konsultasi berlangsung secara interaktif dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu di lingkungan FPOK UPI. Pembahasan mencakup sinkronisasi kurikulum Filanesia (Filosofi Sepak Bola Indonesia) dengan pendekatan sport science modern, penguatan periodisasi latihan fisik, pengelolaan gizi atlet, pemanfaatan teknologi untuk evaluasi performa, hingga strategi pedagogi olahraga bagi anak. Berbagai rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyempurnaan sistem pembinaan SSB Bravensia agar semakin terukur, ilmiah, dan berorientasi pada perkembangan atlet secara menyeluruh.
Sebagai tindak lanjut, kedua belah pihak menyepakati sejumlah rencana kolaborasi, di antaranya pembukaan program magang mahasiswa FPOK UPI di SSB Bravensia, pemanfaatan SSB sebagai laboratorium penelitian lapangan, pelaksanaan survei teknis ke lokasi latihan, serta penyelenggaraan edukasi parenting secara berkala guna menyelaraskan pemahaman antara pengelola dan orang tua dalam mendukung proses pembinaan atlet muda.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran FPOK UPI sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif membangun kemitraan strategis dengan masyarakat melalui penerapan keilmuan olahraga. Kolaborasi tersebut sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kualitas kesehatan dan pembinaan atlet usia dini, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pendidikan olahraga berbasis sains, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara perguruan tinggi dan mitra dalam mendukung pembangunan olahraga yang berkelanjutan.
