THE NEEDS OF CHANGING IN PARADIGM OF TEACHING PHYSICAL EDUCATION AND SPORT AT SCHOOLS

THE NEEDS OF CHANGING IN PARADIGM OF TEACHING PHYSICAL EDUCATION AND SPORT AT SCHOOLS

 Bambang Abduljabar,  Dr. M.Pd. *)

*) The lecturer of sport pedagogy at the School of Sport Education and Health Education—Indonesia University of Education
ABSTRACT
The goal oriented in teching physical education has been changed from education process into training proces. The mssion to build physically educated persons becomes sportly educated persons. It happened from educational phylosofi to biological phylosofi. The external force pushed the teaching learning process paradigm. Historical, Sociological, and Pedagogical dimension as some factors that should change the paradigm to promotes of the students’s quality of life have to be consider. Didactical and methodical principle has been outlined to reach the goal in new teaching physical education paradigm.
Key words: physical education, sport education, biological and educational phylosofi, didactical and methodical principles.

ABSTRAK
Tujuan pengajaran penddikan jasmani telah berubah dari proses pendidikan menjadi proses pelatihan. Misi mengembangkan siswa yang terdidik secara jasmaniah menjadi siswa terdidik secara olahraga. Tujuan juga telah berubah dari filosofi kependidikan menjadi filosofi biologikal. Dimensi sejarah,sosiologikal, dan pedagogikal sebagai beberapa faktor yang perlu mengubah paradigma untuk mendapatkan qualitas hidup siswa yang lebih baik harus dijadikan pertimbangan. Prinsip prinsip didaktik dan metodik telah dirumuskan dalam upaya meraih tujuan dalam pelaksanaan paradigma baru pendidikan jasmani.
Kata-kata kunci: pendidikan jasmani, pendidikan olahraga, filosofi biologikal dan kependidikan, prinsip didaktik dan metodik.
Pembelajaran pendidikan jasmani telah dipandang sebagai pendidikan olahraga, suatu proses pendidikan kedalam olahraga. Kini, pembelajaran dalam pendidikan jasmani telah diyakini sebagai pendidikan teknik-teknik kecabangan olahraga. Namun demikian, pada saat yang bersamaan pendidikan jasmani di sekolah telah pula dimaknai sebagai pendidikan nilai, suatu upaya pendidikan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan olahraga. Pembelajaran pendidikan jasmani telah diarahkan pada upaya upaya promosi sekolah melalui jalur prestasi olahraga. Secara tradisional, pendidikan jasmani adalah pendidikan olahraga, yang lebih mudah dimaknai sebagai proses pendidikan kedalam olahraga. Para guru olahraga, yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (Penjasorkes) lebih mengarahkan pada pelaksanaan pembelajaran teknik-teknik dasar kecabangan olahraga.
Pembelajaran pendidikan jasmani yang mengarah pada pembelajaran olahraga itu pun tidak tertopang oleh ketersediaan sarana dan prasarana serta peralatan pembelajaran yang memadai. Banyak lingkungan olahraga di sekolah dibatasi infrastruktur bangunan sekolah yang mengitari lapangan olahraga, tempat pembelajaran pendidikan jasmani ataukah itu pendidikan olahraga, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran mengganggu pembelajaran matapelajaran lain yang dilakukan. Lingkungan sekolah tidak tersedia sarana bangunan indoor olahraga, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga tidak dapat berjalan efisien dan efektif.  Beberapa masalah dan hambatan lain dalam pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah juga muncul seperti:
1.      Status matapelajaran rendah, tidak menunjukkan kontribusi jelas bagi pendidikan
2.      Kedudukan termarjinalkan dan semakin menurun
3.      Waktu pembelajaran semakin kurang bermutu
4.      Pendidikan jasmani dianggap tidak penting
5.      Rendah kompetensi guru
6.      Rendah dalam standar program
7.      Lemah dalam penyiapan tenaga guru pendidikan jasmani
8.      Terdapat penurunan kredibilitas
9.      Terdapat perbedaan diantara kurikulum pendidikan jasmani sebagai dokumen dengan fungsi kurikulum sebagai proses pendidikan.
Secara khusus, permasalahan utama yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga serta kesehatan di sekolah adalah:
1.      Guru pendidikan jasmani tidak secara sengaja merancang pembelajarannya untuk membantu siswa belajar kedalam gerak. Pembelajaran yang tidak membekali kecakapan gerak siswa yang mengantarkan siswa bisa mandiri dan sejahtera karena kepemilikan tubuh dan potensi gerak tubuhnya.
2.      Pembelajaran pendidikan jasmani dibebani oleh kepentingan olahraga prestasi, olahraga kesehatan, dan olahraga rekreasi, sehingga berada dalam arah yang tidak jelas.
3.      Terlalu banyak guru pendidikan jasmani tidak melaksanakan pembelajarannya sebagai upaya mengajar, sehingga tidak menimbulkan belajar siswa.
Terlalu kompleksnya permasalahan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah diakibatkan oleh arah orientasi pembelajaran yang tidak jelas. Ketidakjelasan itu dilatarbelakangi oleh dua pandangan filosofis, yaitu :
1.      Pendidikan melalui fisikal/pendidikan melalui aktivitas jasmani/pendidikan melalui olahraga
2.      Pendidikan kedalam fisikal/pelatihan fisikal.
Kedua pandangan filosofis ini telah menyebabkan tidak ter-realisasikannya tujuan dan hasil yang dijanjikan. Pembelajaran yang terjadi lebih mengarah pada praktik-praktik non-pembelajaran, bahkan cenderung terjadi mal-mal praktik pembelajaran. Pembelajaran telah menimbulkan kehilangan jatidiri proses kependidikan, dan menimbulkan kehilangan kontribusi serta kredibilitas sebagai matapelajaran penting di lingkungan sekolah. Pembelajaran yang terjadi telah menimbulkan pada resiko sebagai matapelajaran yang tidak memberikan kontribusi pada pendidikan siswa, sehingga muncul pemikiran layak ditiadakan dari kurikulum sekolah. Arah orientasi filosofis seperti yang dimaksud dalam pernyataan di atas akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.
Karena itu, pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani membutuhkan paradigma baru dalam pengajarannya. Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang upaya perubahan paradigma yang dimaksud, perlu terlebih dahulu perlu dipahami landasan-landasan utama mengapa terjadi perubahan dalam orientasi dari pembelajaran pendidikan jasmani ke pembelajaran olahraga.
MENGAPA PEMBELAJARAN PENJAS MENJADI PEMBELAJARAN OLAHRAGA?
FAKTA HISTORIS
Pendidikan jasmani lahir dari gagasan pendidikan melalui jasmani. Artinya jasmani dijadikan media atau alat untuk peraihan tujuan-tujuan pendidikan. Jasmani dalam bentuk dan wujudnya sebagai aktivitas jasmani dijadikan mediator dalam pencapaian cita-cita pendidikan. Guru pendidikan jasmani perlu pandai dalam perancangan aktivitas jasmani sehingga menyebabkan siswa belajar, baik belajar melalui kemampuan kognitif-geraknya, afektif-geraknya, sosio-geraknya, maupun tekno-geraknya, agar menghasilkan dan meraih cita-cita pendidikan.
Sejak kelahirannya,istilah pendidikan jasmani, tertuang dalam institusi perguruan tinggi dalam nama Lembaga Akademi Pendidikan Jasmani (LAPD), meski pula sempat bernama Fakultas Pendidikan Jasmani (FPD) ketika bergabung dengan Universitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Padjadjaran, atau bahkan sempat bernama Akademi Pendidikan Jasmani (APD). Pada tingkat pendidikan menengah pun pernah dikenal nama SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Jasmani). Isitilah Pendidikan Jasmani berkembang saat itu dalam dalam pemahaman kesehatan, sebagai akibat dari pengasuhan Fakultas Kedokteran (FK UNPAD dan FK UI). Istilah pendidikan jasmani juga menghasilkan nama generik yaitu gerak badan, suatu upaya menggerakkan badan, yang dikemudian dipengaruhi oleh gerakan taiso pada masa penjajahan Jepang, maka kemudian nama gerak badan sangat populer pada saat itu.
Pendidikan jasmani beranalog pada tujuan yang sama dengan istilah pendidikan bahasa atau pendidikan matetika. Pendidikan bahasa bermaksud mengantarkan siswa menjadi sejahtera dan mandiri karena kemampuan bahasanya. Siswa yang ter-literacy secara bahasa diharapkan mampu membaca, menikmati puisi, membaca teks, berkomunikasi, atau bahkan mengembangkan kemampuan berbahasanya dalam berbagai ragam bahasa. Pendidikan matematika adalah juga proses pendidikan yang memanfaatkan angka-angka dalam logika aljabar, aritmetika, geometri untuk pembekalan pada diri siswa agar siswa sejahtera dan mandiri karena pengetahuan matematikannya. Siswa yang ter-literacy secara matematis diharapkan mampu mengembangkan kemampuan logika dan nalarnya dalam mengatasi semua permasalahan logika matematis dalam kegidupannya. Dengan demikian pendidikan bermaksud membekali siswa dari keadaan yang ada pada keadaan yang semestinya atau seharusnya.
Pendidikan jasmani bermaksud membekali kecakapan fisikalnya, mengarahkan siswa yang terdidik secara jasmaniah. Kecakapan jasmaniah ini dalam bahasa Inggris identik dengan physical literacy. Suatu pembelajaran yang bermaksud memberikan kecakapan dan keterampilan gerak yang menyebabkan siswa ter-literasi secara jasmaniah, sehingga para siswa mendapat pengalaman-pengalaman gerak yang membekali diri siswa cakap dan mandiri serta sejahtera karena kepemillikan tubuhnya. Tubuhnya tidak membebani dirinya, tubuhnya memudahkan segala kebutuhan hidupnya, tubuhnya memandirikan dirinya, dan tubuhnya mensejahterakan dirinya.
Fakta kurikulum ketika masa APD tidak dikenal istilah olahraga, pada saat itu justru yang berkembang adalah istilah gerak badan. Matakuliah-matakuliah yang perlu dipelajari para mahasiswa APD kala itu tidak ada yang bernuansa olahraga, bahkan perkuliahan pun sangat kental dengan nuansa gerak manusia untuk kesehatan, sebagai konsekuensi perlekatan diri dengan dengan Fakultas Kedokteran ketika masa FPD (Fakultas Pendidikan Djasmani). Salah satu  matakuliah yang dipelajari saat itu adalah matakuliah antropologi budaya gerak, yang mempelajari esensi gerak dari pandangan budaya. Tetapi pada saat perubahan dari APD menjadi STO, istilah olahraga begitu kuat, sampai pada dua dekade kemudian, istilah pendidikan jasmani menghilang, dan hanya mengenal istilah olahraga, sehingga munculah istilah olahraga pendidikan, olahraga kesehatan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi. Pengembangan olahraga, kemudian, sangat menguat dan baru kemudian muncul kembali istilah pendidikan jasmani dalam kurikulum persekolahan pada kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada tahun 1994. Tetapi kemudian, terjadi penggabungan istilah menjadi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes). Sejak tahun itu pembelajaran penjasorkes menjadi multi-tujuan. Pembelajaran bisa diarahkan pada upaya upaya peraihan kesehatan, kesenangan-keriangan-keceriaan-kebahagian siswa (upaya rekreatif), peraihan nilai-nilai olahraga (olahraga pendidikan), dan prestasi olahraga tingkat tinggi (olahraga prestasi).
FAKTA FILOSOFIS
            Fakta hitoris menunjukkan bahwa pembelajaran penjasorkes di sekolah berkembang dalam nuansa sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Pertanyaan kemudian, perlu dimunculkan adalah apa misi, visi, dan tujuan hakiki dari penyelenggaraan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan  di persekolahan? Mengapa pembelajaran penjasorkes tidak mengorientasikan diri pada keterjadian proses mengajar (teaching proses) dan mengapa pula tidak menimbulkan pada keterjadian belajar siswa (student learning). Suatu  pembelajaran yang mampu mengantarkan siswa pada pengalaman bermakna, bertujuan, dan berkontekstual dengan segala kebutuhan hidup siswa kini maupun di masa-masa mendatang. Pembelajaran mempertimbangkan koherensi diantara tujuan dan kebutuhan hidup siswa kini dan mendatang. Pembelajaran yang mengantarkan pada kebermaknaan teaching learning process melalui berbagai ragam aktivitas jasmani, olahraga, permainan, ataupun kegiatan jasmani yang terpilih sesuai dengan standar kesehatan dan norma-norma sosial.
            Pergumulan olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, olahraga kesehatan, dan olahraga prestasi di sekolah telah menimbulkan suatu keadaan yang tidak jelas, pembelajaran yang tidak mengandung teaching-learning process pun syah-syah saja dilakukan. Dampak lebih lanjut telah pula menimbulkan keberadaan profesi guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah tidak kredibel bahkan cenderung bukan profesi yang memberikan kontribusi pada pendidikan. Lingkungan infrastruktur kebutuhan sarana dan prasarana serta peralatan atau bahkan gedung olahraga sebagai tempat pembelajaran penjasorkes tidak pernah dimiliki oleh sekolah. Kompetensi guru penjasorkes tidak sesuai dengan standar kompetensi yang diinginkan sebagai akibat dari keragaman kualifikasi dan kompetensi produk lulusan yang dihasilkan program studi. Keberadaan matapelajaran penjasorkes di sekolah berada dalam ketidak jelasan filosofis.
            Secara filosofis, perlu dirumuskan secara jelas dan tegas apa yang ingin dicapai dari keterlaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah. Arah orientasi yang ingin diraih dari keterlaksanaan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah perlu diarahkan pada keterjadian proses ajar dan belajar siswa. Siswa perlu mendapatkan pengalaman gerak dan atau olahraga yang bermakna bagi perkembangan tubuh selanjutnya. Siswa mendapatkan hikmah dari pengalaman gerak atau olahraga yang dijalaninya. Esensi filosofis perlu didekatkan pada aspek-aspek yang terkait dengan kepentingan pendidikan. Pendidikan jasmani perlu diarahkan pada penciptaan mengembangkan potensi utuh siswa melalui jalur aktivitas jasmani, olahraga, atau permainan.
FAKTA PRAKTIS PEDAGOGIS
            Setting pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan  perlu bermakna pedagogis dan berkontribusi pedagogis. Perilaku guru, perilaku siswa, interaksi guru dan siswa, serta aspek tujuan yang dikembangkan perlu dilakukan dalam upaya-upaya sengaja, terbentuk dan dibentuk dalam suasana dan kondisi humanistik, penuh dengan antusiasme dan curahan penuh membelajarkan siswa melalui kegiatan aktivitas jasmani atau olahraga. Pengajaran yang terjadi perlu mencirikan teaching process, dan mengakibatkan students learning process. Pembelajaran berada dalam panduan didaktis-dan-metodis yang cermat dan akurat membangun struktur belajar, sehingga memberikan manfaat secara kognitif, afektif, sosial-emosional, dan bahkan mungkin  berkontribusi secara spiritual.
            Pendidikan jasmani perlu diarahkan pada praktik-praktik pedagogis melalui perancangan pengajaran aktivitas jasmani yang bermakna, bertujuan, dan berkontekstual dengan kebutuhan dan kehidupan siswa kini maupun masa mendatang. Perancangan pembelajaran terutama melalui perancangan aktivitas jasmani ataupun perancangan  pembelajaran olahraga atau permainan perlu bermuatan pedagogis. Ada keterjadian pesan yang tertangkap oleh siswa, yang kemudian membekali kehidupan siswa kini maupun di masa-masa yang akan datang.  Pengalaman belajar gerak yang dialami siswa mengantarkan siswa pada pemanfaatan gerak, permainan, atau olahraga yang bermakna bagi dirinya dan bahkan bagi lingkungan sekitarnya.  Secara pasti dapat dikatakan, bahwa belajar gerak dalam pendidikan jasmani atau pun pendidikan olahraga mengantarkan para siswa pada keinginan dan kemauan bahkan setia melakukan gerak (baca: aktivitas jasmani) di sepanjang hayatnya, kesetiaan melakukan gerak itu kemudian mengantarkan dirinya sejahtera dan mandiri karena kepemilikan tubuh dalam potensi akativitas jasmaninya.
            Namun demikian, cita-cita ideal pendidikan jasmani seperti diungkapkan diatas itu terpatahkan karena gencarnya gerakan pendidikan olahraga. Cita cita pendidikan melalui fisikal atau cita-cita pendidikan melalui aktivitas jasmani dalam konteks literasi fisikal itu tergantikan oleh konsep training of the physical, terutama dalam bentuk keinginan menyehatkan dan membugarkan para siswa. Bahkan, pada tingkatan lebih lanjut guru olahraga menginginkan siswa pandai dan trampil melakukan berbagai teknik kecabangan olahraga. Cita-cita mengarahkan siswa pada literasi olahraga lebih dominan daripada mengarahkan siswa ter-literasi secara fisikal. Karena itu, kemudian berkembang garis-garis pembelajaran kepada siswa menjadi berorientasi pada teknik dasar keterampilan berolahraga ketimbang garis-garis pembelajaran pada keterampilan dan kemampuan gerak siswa. Dengan demikian, kedua orientasi ini perlu ditelusuri sisi-sisi kebermaknaannya bagi kebutuhan dan kehidupan siswa.
Ini berarti, perlu dicari dan ditelusuri ulang jawaban terhadap pertanyaan apa maksud dan tujuan penyelenggaraan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah, berorientasi pada olahraga siswa ataukah pendidikan siswa? Jika berorientasi ada pendidikan siswa maka olahraga sebaiknya menjadi alat atau media untuk meraih pendidikan siswa, dan olahraga dijadikan alat untuk meraih cita-cita pendidikan siswa. Tetapi, manakala tujuan itu pada olahraga siswa, maka pelaksanaan pembelajaran akan menjadi hampa makna, rendah dalam kualitas dan tidak menjadi kontekstual dengan kebutuhan hidup siswa.
Secara dokumenter juga ditemukan bahwa:
“Penggunaan istilah pendidikan jasmani dipakai pada lembaga-lembaga pendidikan baik sipil maupun militer. Sedangkan pengertian olahraga pada waktu itu, orang masih meng-asosiasikan kegiatan kegiatan olahraga yang diselenggarakan  atau dilakukan oleh perkumpulan-perkumpulan olahraga diluar sekolah” (Mochamad Moeslim dkk., 1970:1).
            Dengan demikian, sejak awal kelahiran pendidikan jasmani di Indonesia pemanfaatkan aktivitas jasmani tetap dilakukan di lingkungan sekolah, dan tidak mengenal istilah olahraga ada dalam kurikulum sekolah. Keberadaan aktivitas jasmani dalam kemasan pendidikan jasmani lebih diutamakan pada upaya-upaya menyehatkan siswa agar menjadi warga negara sehat dan siap membela negara. Membangun manusia Indonesia seutuhnya yang sehat jasmani dan rohani, serta sigap dalam membela bangsa dan negara.
            Namun dalam perkembangannya, dalam tulisan Yusuf Adisasmita (1989:17) tentang kesalahan-kesalahan umum terhadap pendidikan jasmani disebutkan bahwa:
“Salah satu kesalahan pengertian adalah bahwa olahraga antar sekolah lebih disukai disebut pendidikan jasmani daripada bagian dari program tersebut. Kesalahan ini timbul karena program olahraga antar sekolah adalah program yang dilihat oleh masyarakat.”
            Nampak jelas bahwa sejak tahun 1970 telah terjadi pergeseran dari makna pendidikan jasmani kearah olahraga. Pada bagian selanjutnya, tulisan Yusuf Adisasmita juga menyebutkan bahwa:
“Bila program olahraga antar sekolah hanya dipakai untuk kesenangan masyarakat saja, maka potensi yang besar dari olahraga antar sekolah untuk memperluas pendidikan, untuk mendidik masyarakat pada umumnya, tidak akan berkembang.”
            Kesempatan besar untuk mendidik siswa melalui aktivitas jasmani semakin memudar dan terus kehilangan makna pendidikan, dan justru yang terjadi hingga saat ini pun adalah pengembangan pada olahraga siswa. Pendidikan jasmani dan olahraga dalam keberadaannya di sekolah telah dimanfaatkan sebesar-besarnya pada pengembangan olahraga siswa dan bukan pada pendidikan siswa. Meskipun ada istilah olahraga pendidikan tetapi istilah ini kalah dan lebih bermakna pendidikan olahraga, yaitu suatu pendidikan kedalam olahraga. Artinya lebih mengarah pada bentuk sosialisasi olahraga kepada siswa.
            Lebih mengagetkan lagi, kesalahan ini telah terjadi sejak tahun 1970, sehingga telah berlangsung hampir 43 tahun. Suatu masa yang menyelimuti dan menggurita keberadaan dan kelemahan pendidikan jasmani di sekolah. Keberadaan yang memaksa pendidikan jasmani senantiasa dalam kondisi lemah kontribusi pendidikan, lemah peran sebagai kurikulum, dan merendahkan kredibilitas pendidikan jasmani di sekolah.
KONDISI DAN REALITA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JASMANI
            Akibat penyamaan makna dari istilah pendidikan jasmani dengan olahraga (karena memang kemudian ada isitilah olahraga pendidikan), didukung pula fakta filosofis, sejarah, dan pedagogis, maka penyelenggaraan pendidikan jasmani di sekolah meluas pada tataran olahraga pendidikan, olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga kesehatan. Kondisi dan realita ini menyebabkan penderitaan yang terus menerus terjadi pada profesi dan situasi pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah. Profesi yang sebenarnya berada di lingkungan pendidikan tidak kunjung memberikan kontribusi pendidikan, fasilitas dan peralatan yang dimiliki tidak pernah kunjung membaik. Penyelenggaraan matapelajaran penjasorkes di sekolah tidak memberikan kontribusi pendidikan.
            Kondisi tersebut di atas dipengaruhi oleh dua ideologi pandangan, yang keduanya tidak dapat menunjukkan praktik belajar-mengajar, yaitu:
1.      Ideologi biologistik. Idelogi ini dilandasi oleh pemahaman pelatihan tubuh atau pelatihan jasmani. Tubuh dijadikan objek sebagai upaya untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan biologis berupa kondisi tubuh sehat dan bugar.
2.      Ideologi pedagologistik. Ideologi ini lahir dari pemahaman konsep pendidikan melalui gerak atau pendidikan melalui olahraga. Pendidikan jasmani dijadikan sebagai wahana entertaiment, penyelia kejenuhan siswa, siswa mendapatkan nilai-nilai dibalik pengalaman gerak yang dialaminya.
Pemahaman pada orientasi kondisi biologis ini dipengaruhi oleh pemikiran sistem senam Swedia, yang dikembangkan oleh Per Hendrik Ling, yang dulu pernah dikembangkan pada masa pendidikan STO dan FKIK. Tubuh dijadikan sebagai objek, mesin, dan instrumen untuk mengembangkan kondisi biologis tubuh. Pemahaman ini berdampak pada penyelenggaraan pendidikan jasmani di sekolah sebagai matapelajaran yang harus menyibukkan siswa pada berbagai keragaman aktivitas jasmani. Lebih tegasnya lagi, tujuan pembelajaran dicirikan oleh keinginan agar siswa mendapatkan kekuatan, kelentukan, dayatahan, maupun kecepatan. Isi pembelajaran dilekatkan pada upaya pelatihan jasmani untuk meningkatkan keuntungan pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pembelajaran pun lebih bernuansa pada tugas-tugas pelatihan daripada tugas-tugas pembelajaran. Metode pembelajaran yang dikembangkan lebih terarah pada pengulangan, drilling, exercising, atau bahkan training, dengan orientasi akhir pada upaya-upaya evaluasi kebugaran.
Pemahaman pada ideologi pedagologistik dilandasi oleh filosofis pendidikan melalui gerak/aktivitas jasmani/ atau olahraga. Pemahaman ini berasal dari aliran Philantroponisme dari Gustmusths dalam bentuk sistem sekolah Austria. Pemahaman ini dilandasi oleh pandangan tubuh sebagai cara untuk mengembangkan pikiran. Karena itu, pendidikan jasmani dianggap sebagai upaya pendidikan menyeluruh, bukan hanya fisikal, tetapi juga mengembangkan kognitif siswa, afektif siswa, dan sosial siswa. Selain itu konsep yang diyakini berasal dari konsep bergerak untuk belajar (moving to learn) dan bukan pada belajar untuk bergerak (learning to move—physical literacy—physically educated persons). Materi-materi yang dipilih seperti: aktivitas senam, aktivitas aquatik, permainan, olahraga, dan seterusnya. Kebenaran akan aliran ini dilindungi oleh pikiran atau ide “pendidikan fungsional,” artinya: jika aktivitas jasmani, permainan, atau olahraga dikemas dalam perancangan yang apik, terencana, seperti yang dimaksudkan, maka akan menghasilkan produk yang seperti diinginkan. Sebagai contoh, jika ingin mengembangkan aspek kerjasama dalam pendidikan jasmani, maka perlu ada kemasan yang memang mencerminkan aspek kerjasama itu. Proses evaluasi yang ditempuh berupa evaluasi proses, yaitu pengukuran pada keterjadian proses, dalam harmonisasi dengan keinginan yang diharapkan.
MENGAPA PERLU PARADIGMA BARU
            Keberadaan matapelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah berada dalam lingkungan pendidikan, karena itu pengajaran harus mencerminkan terjadinya teaching-learning process. Untuk itu, keberadaan matapelajaran penjasorkes di sekolah harus memberikan sejumlah kompetensi pada diri siswa dalam bentuk pengalaman belajar gerak yang bermakna, membekali gerak siswa. Kemudian, karena kecakapan gerak siswa itu, siswa dapat memenuhi semua tuntutan gerak yang dibutuhkan dalam kehidupan kini maupun mendatang. Bahkan bersedia melanjutkan dan mengembangkan keterampilan tubuhnya itu untuk dikembangkan pada klub-klub olahraga tertentu. Tidak ada matapelajaran lain di sekolah yang mengembangkan kemampuan motorik siswa, kecuali matapelajaran pendidikan jasmani.
            Pengalaman belajar gerak yang dialami siswa perlu mengantarkan siswa menjadi faham dan mengerti tentang gerak (tubuh) bagi peraihan kualitas hidupnya kini maupun kelak di masa datang. Serangkaian pengalaman gerak itu menjadikan siswa memahami pentingnya budaya gerak (tubuh), dan melakukannya dalam keseharian hidupnya sebagai jaminan untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik. Dengan demikian, pembelajaran pendidikan jasmani semestinya mengutamakan gerak (tubuh). Pendidikan jasmani ataukah itu pendidikan olahraga perlu berangkat dari pemahaman pentingnya gerak tubuh bagi kesejahteraan dan kemandirian manusia dalam menjalani kehidupan. Meskipun sejarah perjalanan bangsa telah mengantarkan pada keutamaan gerak tubuh, yang kemudian disepakati itu olahraga, untuk kesehatan, pendidikan, rekreasi, maupun prestasi, tetapi tetap di lingkungan sekolah, baik itu olahraga atau gerak badan harus mengantarkan pada pendidikan siswa.
            Keutamaan belajar gerak dalam pendidikan jasmani dilandasi oleh empat alasan utama, yaitu:
1.      Masyarakat modern membutuhkan pemahaman akan kepemilikan tubuhnya. Karena berkembangnya teknologi dan transportasi menyebabkan tubuh terpisah dari kepentingan hidup sejahtera. Kemudahan dalam bepergian, dengan cara mengendari sepeda motor atau ojeg, atau kendaraan mobil, atau menaiki lift atau elevator untuk bisa sampai ke tingkat lantai tertentu, menyebabkan tubuh tidak diberi kesempatan untuk bergerak. Karena itu, seyogyanya partisipasi dalam belajar gerak di kelas pendidikan jasmani harus mengantarkan pada pentingnya budaya gerak bagi setiap individu siswa. Budaya gerak menjadi landasan utama dalam kepemahaman terhadap kepemilikan tubuh, dalam berpartisipasi di lingkungan sosial, dan bahkan pada tingkat lanjut dalam pengembangan olahraga bagi nama baik dan kejayaan bangsa.
2.      Landasan lain, mengapa perlu mengubah paradigma dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah adalah secara personal kebebasan, partisipasi dan kepuasan dalam budaya gerak sangat bergantung kepada bekal kecakapan dan kompetensi gerak individu itu sendiri. Bekal kompetensi gerak itu tidak datang dengan sendirinya secara automatis, tetapi membutuhkan proses belajar-mengajar gerak yang berstruktur, bermakna, bertujuan, dan berkontekstual dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungan. Dalam kaitan ini, dapat dinyatakan bahwa gerak dijadikan media jembatan untuk memahami lingkungan. Gerak menjadi wahana untuk memahami dunia sekitar.
3.      Walaupun pengembangan olahraga dapat dilakukan di sekolah, tetapi pengembangan itu membutuhkan waktu dan cara-cara tertentu, terutama bila diorientasikan pada peraihan prestasi dalam bidang olahraga. Kegiatan yang harus dilakukan adalah memperkenalkan para siswa dengan berbagai cabang olahraga dalam bingkai modifikasi, terutama berada dalam konsep Developmentally Appropriate Practice, yaitu olahraga yang dibelajarkan sesuai denngan kemampuan dan keterampilan gerak yang dimiliki siswa. Pengembangan olahraga lebih lanjut dapat dilakukan di klub-klub olahraga untuk mengejar keterampilan gerak tingkat tinggi demi peraihan prestasi. Olahraga di sekolah perlu diorientasikan untuk memperkenalkan siswa pada budaya gerak, karena setiap siswa berada di lingkungan sekolah untuk selama 10 sampai 12 tahun. Tanggungjawab sekolah-lah untuk memperkenalkan siswa pada penguasaan kompetensi gerak yang membekali diri siswa, sehingga siswa mau dan setia melakukan aktivitas gerak di sepanjang hayatnya. Partisipasi dalam budaya gerak itu, di masa-masa kemudian mengantarkan dirinya memahami tubuhnya, tubuhnya tidak membebani dirinya, tubuhnya memudahkan segala aktivitas kehidupannya, tubuh dalam potensi geraknya itu mensejahterakan dirinya, dan karena kepemilikan tubuhnya justru memandirikan dirinya.
4.      Secara ilmiah, ternyata gerak dapat mempengaruhi kondisi mood emosional-afektif dalam koridor fisiologis dan psikologis. Kondisi riang dan sehat-bugar adalah salah satu ciri keuntungan psikologis dan fisiologis yang dimaksud. Gerak tubuh berkaitan dengan domain kognitif, afektif-emosional, dan sosial siswa. Karena itu, keragaman gerak tubuh dalam bentuk aktivitas jasmani, permainan, atau olahraga (kesehatan, rekreasi, prestasi) perlu dipahami sebagai keluasan tema gerak. Tetapi intisari dari segala bentuk olahraga adalah gerak, karena itu pembelajaran dalam pendidikan jasmani perlu mengorientasikan diri pada pembekalan kecakapan gerak pada diri siswa, sedangkan olahraga dikembangkan kemudian dalam wahana kurikulum ekstrakurikuler atau bahkan siswa dinatarkan pada pembinaan klub-klub olahraga yang digemarinya. Belajar gerak dalam pendidikan jasmai lebih utama daripada belajar olahraga, sehingga orientasi yang harus dikembangkan adalah membangun fondasi dasar gerak, untuk kemudian membangun olahraga di wahana ekstrakurikuler dan klub-klub olahraga di masyarakat.
Pengajaran dalam pendidikan jasmani yang berorientasi pada pengembangan gerak tubuh siswa dapat dianalogikan dengan pengajaran bahasa. Ketika bahasa menggunakan huruf alfabet agar siswa berada dalam budaya bahasa (misal: bisa membaca, menikmati puisi, menulis surat, berkomunikasi antar sesama, atau menguasai berbagai bahasa, dan karena kemampuan bahasanya itu mengantarkan siswa hidup sejahtera dan mandiri), maka demikian juga dengan pengajaran pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani menggunakan tema-tema gerak tubuh sebagai alat untuk hidupa sejahtera dan mandiri. Kepemilikan tubuhnya dalam potensi geraknya itu dipahami dan mengantarkan dirinya hidup sejahtera dan mandiri sebagai akibat dari kemampuan dalam menjaga, memelihara, atau bahkan mengembangkan potensi geraknya itu. Tubuh dalam potensi geraknya itu mengantarkan diri siswa hidup sejahtera dan mandiri. Jadi, ketika bahasa memperkenalkan siswa pada budaya bahasa, maka pengajaran pendidikan jasmani mengantarkan diri siswa pada budaya gerak. Ketika bahasa memperkenalkan belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah bahasa, maka pengajaran pendidikan jasmani memperkenalkan belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah gerak.
Mengandung muatan proses pengajaran dan pembelajaran menjadi hal penting dalam pelaksanaan pendidikan jasmani di masa yang akan datang. Esensi dalam kualitas pengajaran pendidikan jasmani adalah pengajaran gerak dan pengenalan olahraga. Gerak perlu dijadikan sebagai landasan utama dalam pembentukan budaya gerak, karena setelah siswa memiliki budaya gerak, maka kemudian diharapkan bersedia mengembangkan diri pada budaya olahraga. Gerak perlu dijadikan media untuk dapat memahami dunia. Gerak adalah instrumen untuk memahami tubuh. Gerak menjembatani pemahaman diantara hal-hal yang berkaitan dengan diri-pribadi dengan hal-hal yang berada di luar-pribadi. Gerak adalah alat untuk memahami dan mengenali bagian-bagian kepemilikan tubuh. Gerak membungkukkan badan adalah tanda kepemilikan badan atas, menendang bola adalah tanda kepemilikan tungkai, memukul bola adalah tanda kepemilikan lengan, demikian seterusnya.
Dalam pandangan psikologi lingkungan, gerak dipandang sebagai media untuk memahami lingkungan. Gerak adalah keberupayaan manusia untuk memahami dunia. Lingkungan mengundang individu manusia untuk bergerak. Gerak dipandang dalam konteks kebermaknaannya pada lingkungan. Manusia dan hewan bergerak dalam ruang, jarak, dan waktu untuk mencari objek bukan atas inisiatifnya, tetapi lingkunganlah yang mengundang manusia dan hewan untuk bergerak. Belajar bagaimana melempar dan menangkap bola bukan belajar keterpisahan tiga dimesi ruang, jarak, dan waktu, tetapi belajar memecahkan masalah lingkungan tertentu. Belajar suatu keterampilan gerak adalah belajar bagaimana mengatasi lingkungan dan bukan belajar bagaimana menggerakkan tubuh.
Namun demikian, dalam pandangan pendidikan gerak, belajar gerak dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori. Pertama belajar dalam konteks kesadaran tubuh, yaitu belajar gerak dalam pemahaman tubuh untuk digerakkan. Sebagai contoh: gerak melempar dapat diidentifikasi anggota tubuh mana yang harus digerakkan, bagaimana tubuh melakukan gerak melempar dan seterusnya. Kedua, belajar dalam konteks kesadaran ruang, yaitu kesadaran ruang ketika tubuh digerakkan. Ketiga, belajar dalam konteks keterkaitan gerak dengan lingkungan, yaitu interrelationship diantara tubuh dengan benda atau lingkungan sekitar.
Dalam konteks kedua pandangan ini, hal utama yang harus diperhatikan adalah orientasi tujuan apa yang mau dibangun dan dikembangkan didalam pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah. Pada gilirannya, perlu ada penetapan tujuan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa di setiap jenjang persekolahan. Pada jenjang sekolah dasar, perlu mengutamakan pada orientasi pengembangan gerak dasar siswa, sedangkan di sekolah menengah pertama mengutamakan pada pengembangan implementasi gerak siswa, dan di sekolah menengah atas pengembangan gerak yang diorientasikan pada pengembangan olahraga sesuai dengan tingkat kemampuan gerak setiap individu siswa. Artinya, olahraga mengadaptasi siswa dan bukan siswa mengadaptasi olahraga.
KONSEP BARU PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH
            Pembahasan pendidikan jasmani dalam hubungan dengan olahraga sebaiknya dibedakan kedalam dua aspek yang berbeda. Pendidikan jasmani lebih mengutamakan proses keterjadian peristiwa pengajaran dan pembelajaran, sedangkan olahraga karena perkembangannya lebih cenderung bermakna pada upaya peningkatan penampilan keterampilan fisikal tingkat tinggi. Terlebih lagi, pemahaman tentang pendidikan jasmani tidak hanya memusatkan diri pada tubuh sebagai mesin penggerak, tetapi lebih mengutamakan pada gerak siswa dan pengajaran kedalam gerak, suatu pengajaran untuk memecahkan masalah gerak.
            Visi, misi, dan tujuan yang hendak dicapai adalah memperkenalkan para generasi muda kedalam dunia gerak secara bermakna, mengantarkan siswa terbiasa pada situasi gerak tubuh. Tujuan umum yang hendak dicapai adalah pengajaran tentang gerak, sehingga menyebabkan semua siswa belajar keterampilan-keterampilan gerak, pengetahuan, dan sikap dan memungkinkan siswa berpartisipasi secara kompeten dalam budaya gerak atau kemudian mengembangkan dirinya memelihara budaya olahraga. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani bermaksud memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengembangkan identitas geraknya sendiri, dan kemudian memperkenalkan siswa kepada budaya gerak, sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan dalam hubungan dengan keterhubungan-diri, sensitivitas, kepuasan, dan kesediaan berpartisipasi dalam budaya gerak. Pendidikan jasmani berkaitan dengan perkembangan personal siswa dan pembekalan gerak siswa, sehingga siswa mampu sejahtera dan mandiri karena kepemilikan tubuh dalam potensi geraknya.
            Perkembangan personal siswa berkaitan dengan kemampuan belajar afektif melalui dan kedalam gerak, belajar motorik berkaitan dengan kompetensi untuk memecahkan masalah motorik, belajar sosio-motorik berkaitan dengan kemampuan untuk memecahkan masalah sosio-motor siswa, dan belajar kognitif reflektif berkaitan dengan kapasitas pengetahuan dan reflektif siswa dalam melihat dan mewujudkan gerak tubuhnya. Pembelajaran berada dalam suasana pedagogi konstruktivisme, suatu konstruk interaksi guru dan siswa secara bermakna, bertujuan, dan berkontekstual dengan semua kebutuhan dan tuntutan gerak di kehidupan siswanya kini maupun masa mendatang. Gerak tubuh dijadikan media untuk bisa berkomunikasi dengan lingkungan. Gerak tubuh adalah media untuk memahami fenomena dunia. Gerak tubuh dimaknai sebagai bagian penting dari kehidupan manusia.
GERAK PERLU DIUTAMAKAN OLAHRAGA DINOMORDUAKAN
            Konsekuensi dari makna pendidikan melalui fisikal, menuntut pada penggunaan materi dalam pembelajaran pendidikan jasmani mengarah pada fisikal, yaitu pendidikan melalui aktivitas fisikal, dalam hal  ini aktivitas jasmani atau gerak tubuh. Tetapi sayang, pada saat kelahiran pendidikan jasmani di Indonesia, pemahaman ideologis seperti ini tidak dikembangkan, justru yang terjadi adalah mengembangkan olahraga sebagai alat pemersatu bangsa, gengsi dan alat untuk mengakselerasi kehormatan dan martabat bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Pengembangan pada olahraga yang terjadi selama hampir 4 dasa warsa telah menggiring pemahaman setiap warga negara Indonesia pada tema olahraga itu sebagai bentukan olahraga prestasi. Meski ada olahraga pendidikan atau olahraga kesehatan dan rekreasi, tetapi kedua jenis ini tidak dikembangkan baik dari tataran konsep sampai pada praktik berupa layanan jasa atau profesi kerja di masyarakat. Pemahaman lain pun muncul bahwa pendidikan jasmani adalah juga olahraga, sehingga kemudian dalam pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah tidak mengarah pada pengembangan pendidikan, tetapi justru yang terjadi pada pemahaman pengembangan olahraga siswa dan sekolah.
            Keadaan terbalik ini, yaitu menomorsatukan olahraga dan menomorduakan pendidikan, terasa kental sekali di sekolah manakala praktik dalam pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani lebih bernuansakan tema-tema pelatihan daripada tema-tema pendidikan. Keterjadian pengajaran pendidikan jasmani lebih mengutamakan pada ciri-ciri pengulangan, pembiasaan, atau bahkan pelatihan dalam upaya agar siswa mampu menguasai berbagai keterampilan teknik dasar cabang-cabang olahraga, ketimbang mengutamakan pada keterjadian proses ajar mengajar dan belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan melalui analisis proses belajar mengajar yang terjadi (PBM) pada pengajaran pendidikan jasmani di sekolah, yang lebih didominasi oleh pembelajaran kedalam cabang olahraga. Keadaan ini pun diperkuat oleh fakta-fakta kurikulum pendidikan jasmani, lembar kerja siswa (LKS) atau buku-buku LKS yang beredar di sekolah-sekolah sampai pada rancangan pembelajaran dalam bentuk RPP, yang kesemua itu meminta pengajaran olahraga dilaksanakan di sekolah-sekolah. Selain itu, diperkuat pula oleh ketidakjelasan arah visi, misi, dan tujuan pada tingkat penyelenggaraan tenaga kependidikan guru pendidikan jasmani di tingkat Perguruan Tinggi, dalam hal ini FIK dan FPOK di Indonesia. Tiga atau empat program studi yang ada di tingkat perguruan tinggi mengorientasikan diri pada upaya-upaya pendalaman olahraga tanpa mengindahkan orientasi pada olahraga pendidikan, olahraga kesehatan dan rekreasi, dan olahraga prestasi. Para lulusan dari tiga atau empat program studi yang ada itu berhak mengajar di sekolah sebagai guru pendidikan jasmani.
            Indonesia tidak mengembangkan pendidikan jasmani tetapi lebih senang mengembangkan olahraga. Meskipun ada tema olahraga pendidikan, tetapi justru yang dikembangkan adalah pendidikan kedalam olahraga. Seakan terjadi persaingan atau perdebatan diantara pendidikan olahraga dan olahraga pendidikan, tetapi kemudian yang memenangkan persaingan atau perdebatan itu adalah olahraga prestasi. Keadaan yang tidak ada orientasi ini menyebabkan merosotnya kondisi dan profesi guru pendidikan jasmani di sekolah. Hilangnya orientasi pada pendidikan dan lebih senang pada orientasi olahraga, telah menyebabkan terpuruknya sarana dan prasarana pendidikan jasmani, pendidikan jasmani dianggap tidak penting, pendidikan jasmani tidak mengisi kebutuhan-kebutuhan penting kehidupan siswa kini maupun masa mendatang, dan sejumlah kerugian lain berupa makna filosofis dan pedagogis dari pendidikan jasmani itu sendiri.
            Pelaksanaan pendidikan jasmani harus diubah paradigma pembelajarannya. Jika pembelajaran pendidikan jasmani mengorientasikan diri pada peraihan cita-cita pendidikan, dan memang harus demikian adanya, agar sesuai dengan cita-cita filosofinya, maka pembelajaran harus diarahkan pada tema-tema aktivitas jasmani yang menuansakan proses pengajaran dan pembelajaran siswa. Konsep pembelajarannya berada dalam upaya pembelajaran untuk dan melalui jasmani, sebagai upaya membangun siswa terdidik secara jasmaniah, mengantarkan siswa sehat fisikal, sehat mental, sehat sosial, atau bahkan sehat spiritual. Pendidikan jasmani berupaya membentuk manusia seutuhnya, sehingga sering disebut sebagai pendidikan menyeluruh-totalitas manusia. Pendidikan jasmani di sekolah perlu diantarkan pada pemahaman seperti pentingnya pendidikan bahasa atau pendidikan matematika. Ketika bahasa menggunakan huruf-alfabet untuk memandirikan dan mensejahterakan siswa, maka demikian juga dengan pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani menggunakan aktivitas jasmani untuk mensejahterakan dan memandirikan siswa kini maupun di masa-masa kemudian nanti.
            Pendidikan jasmani paradigma baru perlu mengutamakan gerak tubuh siswa, mengantarkan siswa pada kemampuan mengenali tubuhnya dan mengembangkan potensi tubuhnya dalam berbagai keragaman aktivitas jasmani. Gerak tubuh siswa perlu menjadi perhatian guru pendidikan jasmani, karena gerak tubuh akan membekali kepentingan hidup siswa kini dan mendatang. Gerak tubuh perlu diutamakan agar siswa bisa mengenali potensi gerak tubuhnya dan segala pengalaman belajar gerak yang dialami siswa membekali diri siswa untuk hidup sejahtera dan mandiri. Tema-tema gerak tubuh itu perlu menjadi garis-garis pokok pembelajaran pendidikan jasmani. Suatu garis pembelajaran yang mempertegas dan mengarahkan belajar siswa. Garis pembelajaran itu berupa tema-tema gerak yang kemudian dapat dikembangkan dalam bentuk permainan-permainan menyerupai olahraga sesuai dengan prinsip developementally appropriate practice dalam rentang keragaman tingkat kemudahan dan kesulitan yang bervariatif. Sebagai contoh: materi gerak yang dimaksud adalah keseimbangan, koordinasi, melempar, menangkap, berjalan, berlari, berayun, lompat-loncat, dan sejumlah tema-tema gerak lainnya. Garis pembelajaran seperti sangat tepat disampaikan pada siswa di tingkat sekolah dasar. Pada tingkat sekolah menengah pertama berbentuk pengembangan keterampilan gerak dan implementasinya dalam bentuk permainan, sedangkan pada tingkat sekolah menengah atas dapat berupa pembelajaran keterampilan olahraga dalam bingkat modifikasi kedalam bentuk permainan-permainan menyerupai olahraga, sehingga terjadi keragaman bentuk dalam skala mudah sampai sukar, berat sampai ringan, atau sederhana sampai kompleks.
            Alasan lain mengapa Indonesia perlu mengubah paradigma pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah adalah karena Gerak tubuh itu penting bagi kehidupan, gerak tubuh adalah alat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Gerak tubuh perlu dijadikan sebagai bagian dari kehidupan setiap diri insan Indonesia, karena hak-hak tubuh untuk digerakkan semakin terhimpit, dibatasi oleh kemajuan teknologi, ekonomi, sosial-budaya, dan politik yang melakat pada diri setiap organisasi baik pemerintah maupun swasta. Gerak tubuh adalah pendukung utama untuk dapat meraih kualitas hidup yang lebih baik, sehingga diharapkan dari sejahtera atau sehat secara fisikal, mampu pula mencapai sejahtera atau sehat secara mental, sosial, atau bahkan sehat secara moral. Inilah keunikan pendidikan jasmani, karena adanya ikatan perlumatan diantara dimensi fisikal dengan pikiran dan jiwa pada diri seorang siswa. Secara fisikal, tubuh digerakkan, tetapi pada saat yang bersamaan mental-rohani, sosial, afektif-emosional juga digerakkan. Dengan mengacu pada konsep ideologis wholism, maka gerak tubuh dalam pembelajaran pendidikan jasmani berpengaruh pada semua dimensi utuh siswa.
            Gerak untuk tubuh pun sangat penting untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Gerak tubuh perlu melekat dan menjadi ciri-lekat pada diri setiap insan. Pentingnya gerak tubuh itu perlu menjadi bagian penting dari setiap diri insan siswa, dan menjadi budaya gerak sebagai upaya untuk mendapatkan sehat paripurna dan siap menghadapi segala tantangan kehidupan kini dan masa-mendatang.
PRINSIP PRINSIP DIDAKTIK DAN METODIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
            Pembelajaran pendidikan jasmani perlu berada dalam nuansa pedagogi konstruktivistik, yaitu suatu penciptaan bahtera belajar mengajar yang terbentuk secara konstruk diantara interaksi guru dan siswa dalam upaya memenuhi kebutuhan lingkungan. Karena itu pembelajara perlu menjadi unit analisis dalam hubungan individu siswa dengan lingkungan. Asumsi yang harus terbentuk adalah siswa sendiri aktif membangun konstruk pengetahuannya daripada sekedar mendengar informasi dari gurunya. Karena itu para siswa perlu mendapatkan pengalaman belajar dan pemahaman untuk kemudian membentuk konstruk pengetahuannya sendiri. Belajar dianggap sebagai perkembangan dalam cara siswa mengubah dirinya sebagai akibat dari pengalaman belajar, pertumbuhan dan kematangan. Belajar siswa terbentuk dalam cara-cara siswa belajar-kognitif, belajar afektif-emosional, belajar-sosial, dan belajar gerak itu sendiri. Karena itu, guru pendidikan jasmani perlu pandai dalam mengamati dan senantiasa melihat pada cara-cara siswa melakuan tugas gerak, cara-cara siswa merasakan gerak, dan cara-cara siswa memikirkan gerak. Kepandaian ini seakan menjadi kunci keberhasilan pembelajaran pendidikan jasmani. Tentu sejumlah persyaratan lain diperlukan seperti, kepandaian dalam menata lingkungan pembelajaran, mengatur siswa, mengatur ruang gerak yang dimiliki, mengatur waktu, dan mengatur peralatan yang digunakan dalam pembelajaran. Dalam kaitan ini, seyogyanya pembelajaran pendidikan jasmani perlu memiliki standar yang jelas dalam hal fasilitas dan peralatan pembelajaran.
            Manakala pembelajaran pendidikan jasmani harus menccrminkan adegan teaching process, yang menimbulkan belajar siswa dalam konteks belajar kognitif-reflektif; belajar afektif-emosional; belajar sosial; dan belajar gerak, maka dibutuhkan pendekatan pedagogis dengan memperhatikan pada prinsip-prinsip didaktik dan metodik. Pendekatan pedagogis ini diperlukan agar dapat mengangkat harkat dan kredibilitas pendidikan jasmani di sekolah dan di masyarakat. Beberapa panduan Metodik yang dimaksud adalah:
1.      Mencipta tugas belajar gerak secara jelas
2.      Mengorganisasikan proses belajar mengajar dalam kerangka kejelasan masalah gerak
3.      Mencipta tugas belajar gerak dalam konteks belajar untuk memecahkan masalah gerak
4.      Mampu menata lingkungan belajar gerak secara bermakna, bertujuan, dan berkontekstual.
5.      Struktur lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga masalah utama belajar gerak dikenali, dipahami, dan dialami oleh siswa
6.      Berikan siswa dengan informasi untuk mengubah/memodifikasi belajar siswa (landscaping)
7.      Menggunakan Scaffolding (lapisan belajar gerak dalam struktur mudah-sukar; sederhana-kompleks; ringan-berat) dalam struktur garis pembelajaran yang jelas.
            Sedangkan, beberapa panduan didaktiknya adalah:
1.      Kenali dan terima setiap perbedaan siswa baik dalam ciri gerak maupun cara belajar geraknya
2.      Berikan tanggungjawab pada siswa untuk belajar dengan caranya sendiri
3.      Libatkan siswa dalam perencanaan, pengorganisasian dan evaluasi proses belajar-mengajar
4.      Stimulasi siswa untuk merefleksi diri dalam pemecahan masalah geraknya sendiri dan demikian juga dengan proses belajarnya.
            Pembelajaran dalam pendidikan jasmani seharusnya menghasilkan partisipasi dan belajar siswa, sehingga kemudian siswa berada dalam budaya gerak. Artinya, membekali siswa untuk cakap dan setia dalam melakukan gerak di sepanjang hayatnya. Pengembangan olahraga di sekolah sebaiknya dilakukan pada kegiatan ekstrakurikuler, sebagai upaya menjembatani kegiatan olahraga di sekolah dengan olahraga di klub-klub yang ada masyarakat. Namun untuk memudahkan pengembangan pendidikan jasmani dan olahraga di masyarakat ini diperlukan pengubahan dalam pendidikan guru pendidikan jasmani di tingkat Perguruan Tinggi Olahraga (LPTO), pengubahan kurikulum, pengubahan dalam praktik-prkatik pembelajaran, dan pengubahan didalam cara melakukan dan berpikir. Dapatkah kita mengubahnya??? Ya tentu, kita dapat mengubahnya.
RESUME
            Pendidikan jasmani perlu dibedakan dengan pendidikan olahraga, dan bahkan perlu pula dibedakan dengan kata olahraga. Pendidikan jasmani lebih mengutamakan pada keterjadian belajar siswa daripada pengembangan pada olahraga siswa. Kehampaan makna pendidikan dari pelaksanaan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan telah menimbulkan situasi dan kondisi pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah berada dalam profesi yang menumpuk dengan berbagai masalah.
            Terjadinya pergeseran istilah dari pendidikan jasmani menjadi pendidikan olahraga juga dibuktikan dengan adanya, pertama fakta filosopis, dari pemanfaatan jasmani dalam wujud aktivitas jasmani menjadi pembahasan mengenai olahraga. Kedua, fakta praktis pedagogis, yaitu kondisi realita pengajaran secara pedagogis yang lebih mengarah pada pengajaran teknik-teknik dasar kecabangan olahraga, sebagai upaya sosialisasi olahraga pada generasi muda. Fakta ini mengubah makna literasi secara jasmaniah menjadi literasi olahraga. Kedua fakta ini menunjukkan adanya kehampaan makna kontribusi pendidikan jasmani pada pendidikan, terutama kepada ketiadaan belajar siswa.
            Pengajaran pendidikan jasmani memerlukan paradigma baru karena empat hal alasan, yaitu: 1) masyarakat modern membutuhkan pemahaman akan kepemilikan tubuhnya. Karena berkembangnya teknologi dan transportasi menyebabkan tubuh terpisah dari kepentingan hidup sejahtera, 2) secara personal kebebasan, partisipasi dan kepuasan dalam budaya gerak sangat bergantung kepada bekal kecakapan dan kompetensi gerak individu itu sendiri. Bekal kompetensi gerak itu tidak datang dengan sendirinya secara automatis, tetapi membutuhkan proses belajar-mengajar gerak yang berstruktur, bermakna, bertujuan, dan berkontekstual dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungan, 3) meskipun pengembangan olahraga dapat dilakukan di sekolah, tetapi pengembangan itu membutuhkan waktu dan cara-cara tertentu, terutama bila diorientasikan pada peraihan prestasi dalam bidang olahraga. Kegiatan yang harus dilakukan adalah memperkenalkan para siswa dengan berbagai cabang olahraga dalam bingkai modifikasi, terutama berada dalam konsep Developmentally Appropriate Practice, 4) secara ilmiah, ternyata gerak dapat mempengaruhi kondisi mood emosional-afektif dalam koridor fisiologis dan psikologis. Gerak tubuh berkaitan dengan domain kognitif, afektif-emosional, dan sosial siswa. Karena itu, keragaman gerak tubuh dalam bentuk aktivitas jasmani, permainan, atau olahraga (kesehatan, rekreasi, prestasi) perlu dipahami sebagai keluasan tema gerak tubuh.
Pengajaran pendidikan jasmani harus menccrminkan adegan teaching process, yang menimbulkan belajar siswa dalam konteks belajar kognitif-reflektif; belajar afektif-emosional; belajar sosial; dan belajar gerak, maka dibutuhkan pendekatan pedagogis dengan memperhatikan pada prinsip-prinsip didaktik dan metodik. Pendekatan pedagogis ini diperlukan agar dapat mengangkat harkat dan kredibilitas pendidikan jasmani di sekolah dan di masyarakat. Beberapa panduan Metodik yang dimaksud adalah: 1) mencipta tugas belajar gerak secara jelas; 2) mengorganisasikan proses belajar mengajar dalam kerangka kejelasan masalah gerak; 3) mencipta tugas belajar gerak dalam konteks belajar untuk memecahkan masalah gerak; 4) mampu menata lingkungan belajar gerak secara bermakna, bertujuan, dan berkontekstual; 5) struktur lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga masalah utama belajar gerak dikenali, dipahami, dan dialami oleh siswa; 6) berikan siswa dengan informasi untuk mengubah/memodifikasi belajar siswa (landscaping); 7) menggunakan Scaffolding (lapisan belajar gerak dalam struktur mudah-sukar; sederhana-kompleks; ringan-berat) dalam struktur garis pembelajaran yang jelas.
            Sedangkan, beberapa panduan didaktiknya adalah: 1) kenali dan terima setiap perbedaan siswa baik dalam ciri gerak maupun cara belajar geraknya; 2) berikan tanggungjawab pada siswa untuk belajar dengan caranya sendiri; 3) libatkan siswa dalam perencanaan, pengorganisasian dan evaluasi proses belajar-mengajar; 4) stimulasi siswa untuk merefleksi diri dalam pemecahan masalah geraknya sendiri dan demikian juga dengan proses belajarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abernethy, B. et.al. (1997). The Biophysical Foundation of Human Movement. Champaign, Illinois: Human Kinetics.
Acevedo, E.O., dan Ekkekakis, P. (2006). Psychology of  Physical Activity. Hampaign Illinois: Human Kinetics.
Auweele, Y.V. et. al. (1999). Psychology for Physical Educators. Champaign, Illinois: Human Kinetics.
Good, T.L. dan Brophy, J.E. (1990). Educational Psychology. New York: Longman.
Kirk, D., Macdonald D., and O’Sullivan M. (Eds) (2006). The Handbook of Physical Education. London: SAGE Publications.
Kretchmer, R.S. (2005). Practical Philosophy of Sport and Physical Activity. Champaign Illinois: Human Kinetics.
Metzler, M.W. (2000). Instructional Models For Physical Education. Massachusetts: Allyn &  Bacon A Pearson Education Company
Rink, J.E., (1985). Teaching Physical Education for Learning. Missouri: Time Mirror/Mosby College Publishing.
Schmidt R.A. dan Wrisberg C.A. (2004).  Motor Learning and Performance. A Problem-Based Learning Approach.  Edisi Ketiga. Champaign Illinois: Human Kinetics.
Siedentop, D. (1991). Developing Teaching Skills in Physical Education. Mountain View, California: Mayfield Publishing Company.
Stillwell, J.L., dan Willgoose, C.E., (1997). The Physical Education Curriculum. Illinois: Waveland Press, Inc.
Tinning, R. et.al. (2001). Becoming A Physical Education Teacher. Melbourne: Prentice Hall.
Vendien, C.L. dan Nixon J.E. (1985). Physical Education Teacher Education. Guidelines for Sport Pedagogy. New York: John Wiley and Sons.
Wuest, D.A. dan Bucher, C.A. (1995). Foundations of Physical Education and Sport.  St Louis, Missouri : Mosby-Year Book, Inc.
By | 2013-12-17T07:34:07+07:00 December 17th, 2013|Artikel|0 Comments

About the Author: