Sirkus, Pendidikan Jasmani dan Drama

Sirkus, Pendidikan Jasmani dan Drama

(Sebuah Hikmah dari Pembelajaran Aktivitas Sirkus)

Bandung, 1 Maret 2011

Oleh:

Nuryadi, Bambang Abduljabar

Dosen FPOK UPI

Pengantar

Program kerjasama antara Respo International Belanda dan FPOK UPI dalam mengembangkan aktivitas-aktivitas jasmani untuk para siswa disabilitas melalui kemasan kegiatan pendidikan jasmani di awal tahun 2011, diawali dengan penyampaian aktivitas sirkus oleh Mr Anne, seorang instruktur dari sekolah sirkus Hannes the Netherlands. Penampilan sirkus pada siswa disabilitas dilaksanakan secara marathon mulai tanggal 23 Februari di SLB Cipaganti, 24 Februari di SLB Cicendo, 25 Februari di SLB Tarate, dan 28 Februari di SLB YPLAB Wartawan.

Kegiatan sirkus ini dimaksudkan untuk 1) mempromosikan keriangan gerak, sesuai dengan motto Respo Internatioanl The Joy of Movement. Suatu upaya bahwa gerak atau aktivitas jasmani adalah juga hak para siswa disabilitas. 2) menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya bergerak atau beraktivitas jasmani dalam kehidupan setiap insan, termasuk para siswa disabilitas. 3) menumbuhkan kesadaran diri sebagai akibat dari keberhasilan-keberhasilan dalam setiap melakukan aktivitas sirkus mulai dari tahapan palling mudah sampai pada tahapan gerak yang paling sukar. 4) Selain itu, kegiatan ini pun bermaksud menunjukkan perlumatan antara aktivitas sirkus untuk menarik perhatian siswa, pendidikan melalui aktivitas jasmani, dan kemampuan memerankan adegan gerak dalam berbagai ragam situasi dan keadaan gerak untuk bisa mengekspresikan diri, menunjukkan keberanian diri mementaskan adegan gerak dengan penuh penguasaan dan profesionalitas melalui konsep Drama.

Secara utuh, kegiatan sirkus bagi anak disabilitas bermaksud mengajak setiap insan kembali pada esensi sebagai manusia yang memiliki kemampuan gerak, tak terkecuali siswa disabilitas. Selain itu, mengajak setiap insan untuk mau sadar dan peduli terhadap dimensi-dimensi rasa kemanusian, seperti: sifat saling menghargai dan menghormati antar sesama (respect), simpati, empati, toleransi, dan kepengakuan atau kesamaan (similarity) setiap diri insan yang penuh dengan potensi.

Isi Kegiatan

            Road show penampilan sirkus pada setiap sekolah SLB yang dipilih dan berujung pada kegiatan pembelajaran sirkus pada para dosen dan mahasiswa FPOK UPI  berisi kegiata: petama, aktivitas lempar tangkap (juggling), dengan menggunakkan berbagai macam alat mulai dari scarf (sejenis saputangan ringan), bola, ring plastik, stick sirkus, disertai variasi tingkat kesulitan mulai dari lemparan-tangkapan satu bola, dua bola (baik lurus atau bersilangan), tiga bola, empat bola atau bahkan lebih. Kunci terpenting keberhasilan kegiatan gerakan ini adalah pada lemparan kearah yang diinginkan (membayangkan sudut jendela ada dihadapan dengan lemparan kearah sudut yang diinginkan, dan lemparan bola sedikit lebih atas dari titik mata), disertai dengan beberapa trik, seperti melempar tiga bola tetapi satu bola di drop dari ketinggian titik pandang, lempar tiga bola dengan cerita, mengibaratkan bola saling mengejar tetapi ada bola yang berperan bersembunyi. Perlu pula diperhatikan dalam setiap melakukan gerakan itu berirama dan senantiasa senyum.

Kedua, flower sticks yaitu tiga buah tongkat yang sedikit lengket satu sama lain. Aktivitas sirkus ini diawali dari kegiatan sekedar menggelundungkan stick berbunga itu di kedua tangan, melempar bersama oleh kedua tangan, memukulkan salah satu ujung stick, dansa kiri-kanan, dansa berputar, berputar beberapa kali dalam suatu cerita, lempar kemudian di tangkap di atas kepala. Kunci keberhasilan gerakan ini terletak pada rasa irama, koordinasi mata dan lengan, kelembutan gerak, dan kesatuan jiwa antara diri pribadi dengan flower sticks itu sendiri.

Ketiga, pita dan bendera (flags) yaitu memutar-mutarkan alat berpita atau bendera ke segala sisi, arah, dan cara. Putaran disamping badan, putaran didepan badan, putaran bersilangan di depan badan, putaran baling-baling helikopter di atas kepala, putaran di depan badan sambil berdasa, dan variasi putaran lainnya. Kunci penting dari aktivitas sirkus ini adalah koordinasi, dan penguasaan alat.

Keempat, piring china (China plates) yaitu memutarkan piring plastik oleh sebuah stick yang ditempelkan di bawah piring dan sekaligus menjaga keseimbangan putaran piring. Jika para siswa tidak bisa melakukan cara ini, maka mudahkanlah dengan cara memutar piring dengan tangan kemudian menjaga putaran piring dengan ujung stick di telunjuk, di sikut, di dahi, di hidung, di kepala, memutar lengan, menjaga putaran dan keseimbangan sambil terlentang, berguling dan bangun kembali. Bagi siswa yang sudah bisa melakukan putaran di ujung stick bisa mempersukar keterampilan gerak dengan cara saling melemparkan piring satu sama lain. Tentu hal terpenting adalah peran drama, seakan keterampilan gerak itu dilakukan dalam suatu improvisasi (penghayatan) dan keinginan untuk mengundang partisipasi siswa.

Kelima, Diabolo yaitu permainan sejenis yoyo dengan menggunakan kedua lengan, tetapi satu lengan aktif menggerakan diabolo dengan cara turun-naik stick sementara lengan satu tidak aktif dan berupaya mempercepat putaran diabolo. Upaya mempercepat putaran diabolo bisa dengan cara mempercepat gerakan lengan keatas dan kebawah atau cara kekiri dan kekanan. Beberapa trik agar menarik adalah dengan menggerakan diabolo seperti lift, melewati satu kaki tali diinjak kaki (seperti bentuk gerak anjing kencing/pipis), tali melewati paha, tali melewati pantat, tali melewati satu bagian atas lengan, dua bagian atas lengan, gerakan seperti melempar diabolo padahal masih terikat, diabolo terbebas tali karena kecepatan gerakan lengan, gerakan seperti bentuk dasi kupu-kupu, atau melemparkan diabolo ke atas dan ketika diabolo terjatuh salah satu stick menunjuk bagian tengah diabolo sehingga diabolo kembali berada di atas tali (variasi bisa rendah, menengah rendah, atau paling tinggi). Penampilan yang selalu tidak boleh lupa dari seorang pemain sirkus untuk menarik perhatian para siswa adalah memadukan setiap gerakan yang diperagakan dengan sebuah atau beberapa cerita, sehingga menuntut pemain sirkus menjadi talk active.

Itulah beberapa aktivitas sirkus yang didemonstrasikan pada kegiatan pembelajaran sirkus dari Mr Anne Kuipers (Instruktur sekolah sirkus HANNESSCHOOL dari Negeri Belanda). Tentu, ada beberapa kegiatan aktivitas sirkus lain yang belum diperagakan, karena  kesempatan waktu yang tidak mencukupi, seperti kata beliau ada aktivitas keseimbangan (balancing. Kesempatan pembelajaran sirkus ini telah dimanfaatkan para dosen FPOK sebagai sebuah pembelajaran pendidikan jasmani,  ingat beberapa adegan sirkus adalah aktivitas jasmani. Aktivitas sirkus ini dapat dimanfaatkan untuk mengorientasi para peserta didik pada kegiatan aktivitas jasmani, tidak selalu bentuk olahraga kecabangan. Para mahasiswa FPOK juga mendapat kesempatan mempelajari aktivitas sirkus ini, dan dari partisipasi aktif mahasiswa yang diperlihatkan menunjukkan antusias tinggi.

Kata-kata Kuci

Hikmah pembelajaran aktivitas sirkus memberikan kata-kata kunci keberhasilan pembelajaran pendidikan jasmani, yaitu sirkus, pendidikan jasmani, dan drama. Manakala pembelajaran pendidikan jasmani digelar maka perlu menuansakan satu momen sirkus untuk menarik perhatian para peserta didik, pendidikan jasmani sebagai bentuk bahtera orientasi belajar-mengajar melalui dan kedalam aktivitas jasmani, dan drama sebagai upaya memperkokoh adegan pembelajaran yang bermakna melalui penghayatan peran dan ekspresi diri sebagai pendidik.

Penghayatan terhadap ketiga kata kunci di atas perlu dimiliki oleh baik calon maupun guru pendidikan jasmani untuk bisa mengantarkan pendidikan jasmani sebagai matapelajaran yang biologis, pedagogis, maupun konstruktifis secara sekaligus. Secara biologis mengembangkan kesadaran bilogis. Secara pedagogis menumbuhkan adegan kependidikan. Dan, secara konstruktifis bermakna bahu-membahu interaksi guru dan siswa membangun makna pembelajaran yang berarti, sesuai dengan kemampuan dan keterampilan siswa serta tuntutan dan kebutuhan kehidupan siswa kini maupun masa yang akan datang. Perlumatan antara sirkus, pendidikan jasmani, dan drama harus mampu mengantarkan pembelajaran pendidikan jasmani yang penuh makna.

Implikasi dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Ketika sesaat pembelajaran sirkus disampaikan kepada para dosen FPOK, muncul satu pertanyaan yang dikemukakan oleh Alit Rahmat, yaitu mengapa menggabungkan pendidikan jasmani, sirkus dan drama? Suatu pertanyaan yang berimplikasi kedalam pembelajaran pendidikan jasmani. Pertanyaan ini muncul ketika instruktur menjelaskan tujuan dan kekuatan sirkus sebagai sebuah upaya menarik perhatian para penonton untuk mendapatkan keriangan, kesenangan, dan kebahagiaan. Suatu bentuk entertainment yang dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah adegan pembelajaran melalui aktivitas jasmani. Karena itu, penting untuk dipahami oleh semua unsur sivitas akademika FPOK, untuk pula mengembangkan kajian objek telaahannya pada aktivitas jasmani dan bukan hanya pada olahraga baik sebagai sebuah adegan pendidikan, rekreasi dan kesehatan, atau kepelatihan untuk mendapatkan keterampilan gerak tingkat tinggi. Semua olahraga adalah aktivitas jasmani, tetapi tidak semua aktivitas jasmani adalah olahraga. Karena itu, pemanfaatan aktivitas jasmani dalam kegiatan sirkus dapat diadopsi untuk menjadi adegan pembelajaran melalui aktivitas jasmani.

Telaahan terhadap aktivitas jasmani baik dalam berbagai bentuk pengalaman aktivitas jasmani yang ada, seperti dalam kegiatan hasil gerak tubuh berbentuk tarian, sirkus, terlebih lagi dalam kegiatan akrobatik, aktivitas jasmani untuk kesehatan, aktivitas jasmani untuk rekreasi, atau aktivitas jasmani untuk kesemaptaan jasmani perlu menjadi telaahan seluruh sivitas akademika FPOK. Keberadaan ragam aktivitas jasmani itu semua di masyarakat ada dan tidak dapat dipersamakan dengan olahraga. Olahraga, yang dipersamakan dengan makna SPORT lebih mengarah pada penampilan keterampilan tingkat tinggi sehingga membutuhkan pelatihan dan pengulangan, ada sifat kompetisi sehingga jelas ada yang menang dan ada yang kalah, didorong oleh faktor instrinsik dan ekstrinsik motivasi, serta ada aturan aturan yang jelas yang perlu disepakati bersama. Meskipun ini hanya sekedar peristilahan, tetapi nampaknya sangat membantu mempertegas posisi, peran, dan misi serta visi dari olahraga pendidikan,olahraga kesehatan dan rekreasi, dan olahraga prestasi.

Upaya mempertajam olahraga pendidikan, misalnya, tidak perlu lagi ada kesan melatih, tetapi yang perlu diutamakan adalah upaya mempertajam orientasi bahtera belajar-mengajar baik kedalam maupun melalui aktivitas jasmani, permainan, atau sekalipun olahraga. Kegalauan inilah yang terjadi di berbagai setting sekolah, termasuk di Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah lebih mengutamakan pada upaya pencapaian olahraga prestasi, dan kurang memaknai aktivitas jasmani sebagai ciri ekspresi diri yang bermuatan sejuta nilai seperti, respek saling menghargai-menghormati, toleransi, simpati, empati, disiplin diri, kejujuran (fairplay) tanggungjawab, regulasi diri, dan nilai-nilai terkait kependidikan lainnya. Hal ini terlihat ketika aktivitas jasmani sirkus ditampilkan di salah satu sekolah SLB hanya sekedar selebrasi keceriaan, dan melupakan diri sebagai insan sejati, yang melekat pada berbagai dimensi utuh manusia , baik dimensi fisikal, kognisi, sosial-emosional, moral atau bahkan spiritual. Saatnya FPOK  mengambil inisiatif mempertajam misi dan visi pada pembedaan aktivitas jasmani dengan olahraga, dan mengembangkan secara spesifik pada bentukan aktivitas jasmani dan olahraga untuk pendidikan, kesehatan dan rekreasi, serta prestasi.  FPOK perlu menelaah aktivitas jasmani dari segi ragam pengalaman, kajian ilmiah aktivitas jasmani, dan karir profesi terkait aktivitas jasmani dan olahraga.

 

Kesimpulan

Hikimah penting dari kegiatan pembelajaran sirkus yang diberikan oleh Instruktur sekolah sirkus HANNESSCHOOL the Netherlands, Mr. Anne Kuipers ini  adalah: 1) Percampuran antara aktivitas sirkus, pendidikan jasmani dan drama akan berdampak meningkatkan kredibilitas matapelajaran pendidikan jasmani di sekolah sebagai sebuah matapelajaran yang berkontribusi besar pada pendidikan siswa. 2) Perlunya penajaman pembedaan antara aktivitas jasmani dan olahraga, sehingga akan berdampak pada keragaman yang juga spesifik diantara istilah olahraga pendidikan, olahraga kesehatan dan rekreasi, dan olahraga prestasi. 3) Perlu ada satu atau beberapa dosen di FPOK yang menekuni secara utuh dan lengkap mengembangkan aktivitas sirkus sebagai sebuah bagian dari telahaan aktivitas jasmani. 4) Perlu ada pertimbangan untuk memasukkan kegiatan-kegiatan aktivitas sirkus kedalam kurikulum pendidikan jasmani pada khususnya, dan umumnya pada jurusan POR dan PKR di FPOK. 5) Perlu ada pelatihan lebih lanjut dari instruktur sirkus untuk mengembangkan aktivitas sirkus kedalam pendidikan jasmani. 6) Ciri spesifik dari aktivitas sirkus adalah atraktif—untuk mengundang perhatian, talk active—dalam upaya mengundang perhatian itu seorang instruktur sirkus menggabungkan aktivitas jasmani dengan cerita-cerita menarik, skillfull—tampilan keterampilan aktivitas jasmani penuh penguasaan dan profesional.