Jurnal PGSD Pendidikan Jasmani, Volume 1, Nomor 3, Desember 2013 : Nurma Afriliani – UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SENAM MELALU KONSEP BERMAIN DI SDN CISITU

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SENAM MELALU KONSEP BERMAIN  DI SDN CISITU

Nurma Afriliani

Helmy Firmansyah

Sufyar Mudjianto

PROGRAM STUDI PGSD PENDIDIKAN JASMANI

PENDIDIKAN OLAHRAGA

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

 

Nurma Afriliani                    nta.apriliani@yahoo.com

Helmy Firmansyah                helmy_Firmansyah@yahoo.com

Sufyar Mudjianto                 Sufyar_mudjianto@yahoo.com

  Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Senam Melalui Konsep Bermain Penelitian Tindakan Kelas  pada Siswa Kelas IV di SDN Cisitu 1.

ABSTRAK

Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa: hasil belajar siswa meningkat dilihat dari tes keterampilan (52,3%-81,1%)

Kata Kunci : pembelajaran senam, konsep bermain, hasil belajar

EFFORTS TO IMPROVE STUDENT LEARNING OUTCOMES IN THE CONCEPT OF LEARNING THROUGH PLAY GYMNASTICS

Abstrac

Based on data analysis during cycle I and II can be concluded that : The number of active student learning time increased ( 52.3 % -81.1 % )

Key words : learning gymnastics , the concept of play , learning outcomes

 

Belajar merupakan proses berkesinambungan yang berlangsung seumur hidup. Menurut Josep F. Callahan & Leonard H. Clark (1983:198) bahwa, walaupun belajar berlangsung seumur hidup, namun disadari bahwa tidak semua belajar dilakukan secara sadar. Belajar juga diartikan sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif permanen dalam diri seseorang mengenai pengetahuan atau tingkah laku karena adanya pengalaman, Seels & Rita (1994: 12).

Oleh peserta didik akan menghasilkan hasil belajar. Di dalam proses pembelajaran, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik memegang peranan dan tanggung jawab yang besar dalam rangka membantu meningkatkan keberhasilan peserta didik dipengaruhi oleh kualitas pengajaran dan faktor intern dari siswa itu sendiri. Dalam setiap mengikuti proses pembelajaran di sekolah sudah pasti setiap peserta didik mengharapkan mendapatkan hasil belajar yang baik, sebab hasil belajar yang baik dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya. Hasil belajar yang baik hanya dicapai melalui proses belajar yang baik pula. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang baik.

Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani melalui gerakan, permainan dan olahraga sebagai wahana untuk meningkatkan individu secara keseluruhan guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah sebagai alat untuk mendidik dan meningkatkan keterampilan: keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan memecahkan masalah, termasuk keterampilan emosional dan sosial. Bermain adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan bekerja pada org dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, belajar berkomunikasi, menyesuaikan diri dgn lingkungannya, belajar mengenal dunia dan meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Keterbatasan alat-alat pembelajaran.
  2. Kurangnya keterampilan guru memberikan materi dalam rangka meningkatkan keaktifan belajar siswa.
  3. Rendahnya hasil belajar siswa dilihat dari motivasi anak yang kurang.
  4. Ketakutan untuk mencoba gerakan.

Belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Orang yang banyak pengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang banyak belajar, sementara orang yang sedikit pengetahuannya didentifikasi sebagai orang yang sedikit belajar, dan orang yang tidak berpengetahuan dipandang sebagai orang yang tidak belajar. Pengertian belajar demikian, secara konseptual tampaknya sudah mulai ditinggalkan orang. Guru tidak dipandang sebagai satu – satunya sumber informasi yang dapat memberikan informasi apa saja kepada para pembelajar.

Senam merupakan aktivitas fisik yang apat membantu mengoptimalkan perkembangan anak. Gerakan-gerakan senam sangat sesuai untuk mendapatkan penekanan di dalam program pendidikan jasmani, terutama karena tuntutan fisik yang dipersyaratkannya, seperti kekuatan dan daya tahan otot dari seluruh bagian tubuh. Disamping itu, senam juga menyumbang besar pada perkembangan gerak dasar fundamental yang penting bagi aktivitas fisik cabang olahraga lain, terutama dalam hal bagaimana mengatur tubuh secara efektif dan efisien.

Senam yang dikenal dalam bahasa indonesia sebagai salah satu cabang olahraga, merupakan terjemahan langsung dari bahasa inggris gymnastics, atau Belanda gymnastiek. Gymnastics sendiri dalam bahasa aslinya merupakan serapan kata dari bahasa Yunani, gymnos, yang berarti telanjang. Menurut Hidayat (1995) dalam Mahendra (2001: 1), kata gymnastiek tersebut dipakai untuk menunjukan kegiatan-kegiatan fisik yang memerlukan keleluasaan gerak sehingga perlu dilakukan dengan telanjang. Hal ini bisa terjadi karena teknologi pembuatan bahan pakaian belum semaju sekarang, sehingga belum memungkinkan membuat pakaian yang bersifat lentur mengikuti gerak pemakainya.

Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan dan mengenal waktu, jarak, serta suara. (Wong, 2000).

Kata “bermain” mungkin kita semua pernah dengar, lihat, atau alami mulai dari nak-anak sampai orang tua; khususnya pada maasa kanak-kanak ihwal bermain menjadi suatu hal dominan dan sesuai dengan kaeakteristik dunia anak yaitu bermain. Di lihat dari kedudukannya anak adalah tunas bangsa dan penerus cita-cita perjuangan bangsa kelak akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan perhatian, peran dan pendidikan yang benar sejak dini. Dalam ini pendidikan jasmani mempunyai peran dalam mengembangkan otensi anak khususnya melalui aktifitas jasmani. Di saming itu, pendidikan jasmani memberikan pengalaman gerak dan berbagai keterampilan lain yang dikemas secara menyenangkan dalam aktifitas bermain sehingga para peserta dalam pendidikan jasmani merassa senang untuk melakukannya.

Filosofi bermain didefinisikan sebagai hasil dari sejarah manusia yang turun temurun tentunya tanpa membedakan ras, kultur, sosial, agama. Bercirikan aktifitas jasmani yang mengandung nilai-nilai filosofi dalam setiap gerakannya.

Pertama, kepercayaan bahwa aktifitas bermain merupakan refleksi dari budaya masyarakat yang diaktualisasikan dengan aktifitas jasmani. Di samping  itu, kami juga percaya bahwa dengan aktifitas bermain akan dapat memberikan pengarug besar terhadap kesehatan anak dalam periode waktu lama.

Kedua, kepercayaan bermain merupakan suatu hal penting dalam fase pertumbuhan manusia khususnya pertumbuhan secara motorik, karena dengan aktifitas bermain anak akan mempunyai perbendaharaan pengalaman gerak yang banyak sehingga nantinya akan memudahkan anak tersebut untuk memahami keterampilan motorik yang efektif dan efisien.

Ketiga, kepercayaan bahwa dengan bermain, anak akan belajar untuk membuat, mematuhi dan melaksanakan aturan.

Keempat, kepercayaan bahwa program pembelajaran penjas di sekolah harus diisi dengan program yang disukai oleh para siswa dan menawarkan banyak pilihan bagi mereka untuk beraktifitas sesuai dengan mereka  inginkan. Kami juga percaya bahwa dengan aktifitas bermain semua siswa dengan berbagai level kemampuan motoriknya akan mampu berpartisipasi dalam pembelajaran penjas.

Kelima, kami percaya bahwa mengahargai orang lain adalah salah satu tujuan yang dipertimbangkan dalam aktifitas bermain.

Akhirnya, kami percaya bahwa nilai-nilai sosial para siswa dapat dikembangkan melalui aktifitas bermain akan tetapi tujuan ini tidak dapat diperoleh secara otomatis melainkan tergantung kepada bagaimana guru pendidikan jasmani merencanakan dan mengajarkan aktifitas bermain ini kepada siswa dengan benar.

Tujuan bermain dalam pendidikan jasmani disekolah harus konsisten dengan filosofi atau tujuan-tujuan pendidikan itu sendiri, adapun tujuan dari bermain khususnya dalam pendidikan jasmani di sekolah, adalah:

a)        Menyediakan pengalaman gerak yang menyenangkan.

b)        Menyediakan rasa aman secara psikologi dan sosial anak.

c)        Menyediakan partisipasi aktif anak untuk berinteraksi dengan teman.

d)       Memberikan anak kesempatan untuk tumbuh secara fisik, emosional, spitual, melalui partisipasi dalam aktifitas bermain.

Di dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar pada saat aktivitas pembelajaran senam. Kebanyakan siswa-siswi malas dan mengeluh ketika pembelajaran senam terutama senam lantai. Didalam pembelajaran ini, guru sering mengalami kesulitan tentang hasil belajar  siswi yang kurang terhadap pembelajaran aktivitas senam lantai yang diakibatkan oleh ketakutan siswi untuk melakukan gerakan senam lantai. Sebelum pembelajaran dimulai para siswa sudah takut terlebih dahulu untuk melakukan gerakan yang mengakibatkan gerakannya kurang maksimal dan salah yang menyebabkan sakit pada anggota tubuhnya.

Sebagai fasilitator guru Penjas harus ektra berfikir keras untuk meyakinkan para siswa bahwa pembelajaran senam lantai itu sangatlah menyenangkan dan tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Guru penjas harus memberikan arahan atau penjelasan mengenai aktivitas pembelajaran senam lantai secara bertahap. Guru wajib memberikan motivasi atau bentuk semangat untuk para peserta didik agar mereka mengikut sertakan dirinya didalam pembelajaran aktivitas senam lantai.

METODOLOGI

Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan beberapa instrumen penelitian diantaranya Lembar Observasi Aktivasi Siswa, Lembar Tes, Catatan Lapangan dan Kartu Ceria. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2013/2014. Sasaran penelitian yaitu siswa-siswi SDN Cisitu 01 Kota Bandung. Sampel penelitian sebanyak 34 siswa kelas 4b. Penelitian ini dilakukan dengan cara tes keterampilan yang dilakukan untuk mengetahui seberapa berhasilkah pembelajaran senam melalui konsep bermain di setiap siklus atau setiap pertemuan. Yang dibagi menjadi beberapa gerakan post yang berbeda-beda gerakan senam lantai nya.

HASIL PENELITIAN

Data lengkap hasil penelitian tes keterampilan yang terkumpul disajikan dalam tabel-tabel dibawah ini.

Tabel 1

Data hasil penelitian tes keterampilan disetiap Siklus

Data Hasil Penelitian
Siklus Tindakan Jumlah gerakan yang dilakukan siswa keseluruhan persetase
I 1 89 52,3 %
I 2 103 60,5 %
II 1 104 61,1 %
II 2 138 81,1 %

Keterangan :

Jumlah gerakan atau tes yang dilakukan setiap siswa maksimal adalah 5 point. Siswa yang melakukan nya ada 34 siswa.

Tabel 2

Perbandingan Hasil Penelitian tes keterampilan

Penelitian Tindakan Kelas
Siklus I Siklus II
Tindakan 1 Tindakan 2 Tindakan 1 Tindakan 2
( 52,3% vs 60,5% ) 15,6 %
( 60,5% vs 61,1% ) 0,99 %
( 61,1% vs 81,1% ) 32,3 %
( 52,3% vs 81,1% ) 55,0%

Hasil penelitian di atas dapat dilihat bahwa pada siklus I tindakan 1 hanya menghasilkan 52,3% itu baru tahap awal tetapi hanya sebagian anak yang berani untuk mencoba sebagian nya cuek terhadap pembelajaran, pada pertemuan selanjutnya siklus I tindakan 2 menggunakan konsep bermain yaitu dengan cara berkelompok kemudian di lakukan gerakan secara estafet dan akhirnya naik menjadi 60,5%. Pada siklus II tindakan 1 pembelajaran tidak menggunakan konsep bermaian hasil tes keterampilan naik tetapi naik hanya sedikit hanya 0,99%, siswa merasa jenuh dengan pembelajaran seperti itu, pada siklus terakhir yaitu siklus II tindakan 2 dan peneliti menerapkan kembali konsep bermaian dan ternyata berhasil, hasil tes keterampilan meningkat menjadi 81,1%.

Dari hasil tes diatas penelitian ini sudah mencapai 81,1 %, itu terlihat meningkat dari hasil penelitian pada tahap pertama yang hanya menghasilkan 52,3% saja tetapi sekarang telah mencapai 81,1% itu berarti penelitian ini telah dinyatakan BERHASIL dan selesai.

PEMBAHASAN

Ditinjau dari perangkat keputusan, Berdasarkan hasil pengolahan data analisi data menunjukan bahwa pembelajaran senam melalui konsep bermain dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini menunjukan bahwa dengan memberikan pembelajaran senam melalui konsep bermain, siswa dirasa lebih santai dan senang untuk melakukan gerakan dengan gerakan senam yang diperintahkan dengan kreasi masing-masing, sehingga siswa tidak akan merasa takut lagi unruk mencoba berbagai macam gerakan senam. Dalam hal ini pembelajaran senam merupakan suatu proses pembelajaran dalam kontek bermain yang memberikan kesenangan dan mengurangi rasa jenuh kepada siswa untuk mengaplikasikan keterampilan gerak motoriknya pada situasi permainan. Dalam proses pembelajaran melalui konsep bermain melalui pembelajaran senam dalam bentuk permainan, siswa sedikit lebih aktif, menemukan sendiri permasalahan dan solusinya, serta mengemukakan suatu kreatifitas atau gagasan yang terbaik agar mendapatkan memecahkan suatu permasalahan dalam pembahasan yang telah diajarkan. Dengan demikian penerapan konsep bermaian dapat memberikan solusi agar dalam pembelajaran tidak membosankan dan siswa senang terhadap pembelajaran senam dan dapat meningkatkan hasil belajar terhadap kemampuan afektif, kognitif, dan tentunya psikomotorik siswa.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan penerapan menggunakan konsep bermain atau aktivitas bermain, keterampilan siswa dalam pembelajaran senam lantai khususnya tes senam lantai mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilakukan guru dengan melakukan tes senam lantai pada saat proses belajar mengajar, menunjukan adanya peningkatan penilaian senam lantai yang diperoleh siswa dalam hasil tes awal dan setiap siklus selalu meningkat walaupun ada dimana di dalam siklus II tindakan 1 peningkatan hanya memperoleh persentase 0,6% dikarenakan anak merasa jenuh karena tes dilakukan dengan aktivitas bermain. Tetapi pada saat siklus II tindakan 2 tes dilakukan dengan menyisipkan konsep bemain anak menjadi senang kembali dan hasil tes nya pun kembali meningkat secara signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

(2009). Hasil Belajar (pengertian dan Definisi). [Online]. Tersedia:http//indramunawar.blogspot.com/2009/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html

http://Vhariss.wordpress.com/2011/10/20/senam -lantai/

Mahendra, A. (2007) senam Artistik Teori dan Metode Pembelajaran senam untuk Mahasisiwa FPOK-UPI.

Subroto, Toto, dkk. 2010. Modul Mata Kuliah Teori Bermain. FPOK-UPI.