Jurnal PGSD Pendidikan Jasmani Volume 1, Nomor 3, Desember 2013 : Muhamad Arshif Barqiyah – IMPLEMENTASI PENDEKATAN BERMAIN DALAM UPAYA MENINGKATAKAN JUMLAH WAKTU AKTIF BELAJAR GERAK SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH DASAR NEGERI SUKARASA 3 DAN 4 BANDUNG

 

IMPLEMENTASI PENDEKATAN BERMAIN DALAM UPAYA MENINGKATAKAN JUMLAH WAKTU AKTIF BELAJAR GERAK SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH DASAR NEGERI SUKARASA 3 DAN 4 BANDUNG

 

Muhamad Arshif Barqiyah

Yunyun Yudiana, Lilis Komariyah, “Penulis Penanggung Jawab”

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Pendidikan Jasmani

Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

Universitas Pendidikan Indonesia

Shief.sky@gmail.com

 

Implementasi Pendekatan Bermain Dalam Upaya Meningkatakan Jumlah Waktu Aktif Belajar Gerak Siswa Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Di Sekolah Dasar Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung

 

Abstrak

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian mengenai upaya peningkatan jumlah waktu aktif belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar yang di lakukan di SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan mutu hasil pembelajaran dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah dasar dengan implementasi pendekatan bermain. Penelitian dilaksanakan dengan metode penelitian tindakan kelas atau  classroom action research dengan menggunakan rancangan penelitian yang dikembangkan oleh Kurt Lewin yang terdiri atas tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan terhadap 39 Siswa kelas V A SDN Sukarasa 3,4 Bandung yang terdiri atas 17 orang siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Proses penelitian dibagi kedalam tiga siklus dan setiap siklus terdiri atas dua tindakan. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen observasi Group Time Sampling. Semua data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik prosesntase. Hasil analisis data menunjukan bahwa implementasi pendekatan bermain dapat meningkatkan jumlah waktu aktif belajara gerak siswa sekaligus meningkatkan mutu proses dan mutu hasil pembelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Dasar Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung.

Kata Kunci: Pendekatan Bermain, Jumlah Waktu Aktif Belajar (JWAB), Pendidikan Jasmani.

 


Implementation Playing Approach to Increasing Number of Active Learning Time Motion Student in Physical Education

at Sukarasa 3 and 4 Elementary School Bandung

Abstract

This research is a study to increase active learning time in physical education lessons in elementary schools that will be undertaken in Sukarasa 3 and 4 Elementary School Bandung . This study aims to improve the process and quality of learning outcomes in the implementation of the learning process in elementary schools with the implementation of the approach play . Research carried out by the method of classroom action research using a research design developed by Kurt Lewin, that consist of action planning , action, observation and reflection . The experiment was conducted on 39 students of Sukarasa Elementary School VA class 3.4 Bandung consisting of 17 male and 22 female students . The research process is divided into three cycles and each cycle consists of two actions . Data was collected using observation instruments Group Time Sampling . All data were analyzed using the technique percentage . the results of data analysis showed that the implementation approach can increase the number of active learning time motion while improving the quality of the process and the quality of learning outcomes of physical education in Sukarasa 3 and 4 Elementary School Bandung..

Keywords : Playing Approach , Total Time Active Learning, Physical Education.

 

 

PENDAHULUAN

Gerak merupakan hakikat manusia, bergerak adalah salahsatu aktivitas yang tidak akan luput dari kehidupan manusia dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Bahkan pada dasarnya gerak merupakan salahsatu ciri dari makhluk hidup. Dunia anak merupakan dunia yang kaya akan gerak, bahkan gerak pada anak merupakan wahana bagi mereka untuk menyalurkan hasratnya untuk bermain dan bersenang-senang, bahkan gerak juga merupakan sarana bagi anak untuk belajar. Gerak merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak, karena bagi anak gerak yang mereka lakukan semata-mata adalah untuk kesenangan, bukan di dorong oleh maksud dan tujuan tertentu. “Gerak adalah kebutuhan mutlak anak”. (Mahendra, 2007:14).

Melalui gerak anak dapat belajar, anak-anak dapat mempelajari dan mengetahui tentang dirinya sendiri dan individu lainnya, alam dan lingkungan sekitar serta kebudayaan melalui bergerak dalam bentuk yang mereka kehendaki. Apabila pendidikan masuk kedalamnya maka anak-anak akan memperoleh sarana pendidikan yang tetap memfasilitasi mereka dalam dunia mereka sendiri serta mencukupi hasrat dan kebutuhan mereka dalam bergerak.

Hal ini sejalan dengan salahsatu manfaat pendidikan jasmani, salahsatu manfaat pendidikan jasmani secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan anak akan gerak. Pendidikan jasmani merupakan proses pembelajaran yang memanfaatkan aktifitas fisik atau gerak dalam pelaksanaannya yang berorientasi kepada dunia anak dan menyesuiakan materi-materi di dalamnya sesuai dengan kebutuhan anak. Di dalamnya anak dapat belajar sambil bergembira melalui penyaluran hasratnya untuk bergerak. Semakin terpenuhi kebutuhannya akan gerak dalam masa-masa pertumbuhannya, kian besar kemaslahatannya bagi kualitas pertimbuhan itu sendiri.

Selain bergerak, bermain juga merupakan aktivitas yang tak bisa dilepaskan dari dunia anak, sambil bermain anak-anak belajar. Dalam mempelajari hal-hal baru anak anak merupakan ahlinya, segala macam hal mereka pelajari ketika bermain dan bergerak dari mulai ia menggerakkan anggota tubuhnya hingga mengenali berbagai benda di lingkungan sekitarnya. Maka dari itu belajar tidak akan terlepas dari dunia anak, karena belajar merupakan hal yang tidak akan terlepas dari kehidupan manusia, hal ini senada dengan ungkapan rudiana (2009;13) yang menyatakan bahwa “Tugas pertama manusia adalah sebagai pembelajar”

Hampir atau bahkan semua aktivitas anak-anak adalah bermain, bermain merupakan kegiatan yang akan selalu dilakukan oleh anak-anak dalam mengarungi kehidupan mereka sehari-hari. Ketika bermain, mereka meluapkan seluruh emosi mereka, menumpahkan semua ekspresi mereka dan pada saat bermainlah mereka menunjukan jati diri mereka yang sebenarnya. Saat bermain merupakan saat anak-anak merasa bebas dan bersemangat. Senada dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Johan Huizinga yg dikutip oleh agus mahendra (Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani 2007) mengatakan:

“Bermain sebagai aktifitas yang dilakukan secara bebas dan sukarela”

Pernyataan diatas memberikan indikasi bahwa bermain memberikan kebebasan bagi pelakunya untuk menentukan permainan yang mereka kehendaki, meski permainan yang mereka lakukan menuntut mereka untuk bergerak secara aktif baik yang dilakukan sendiri maupun dilakukan secara berkelompok didalamnya tidak ada tuntutan dan paksaan bagi mereka untuk melakukan aktifitas tersebut karena pelakunya melakukan permainan tanpa paksaan dan dilaksanakan karena mereka memang ingin melaksanakannya, inilah yang dimaksud dengan permainan dimainkan dengan “sukarela”. Pada anak-anak bermain merupakan aktifitas yang dilakukan karena merupakan dorongan naluri yang berguna untuk merangsang pertumbuhan fisik dan mentalnya.

Aktifitas bermain juga tidak hanya berorientasi pada kesenangan semata, aktifitas-aktifitas dalam permainan juga tetap memiliki nila-nilai dan manfaat yang banyak bagi anak-anak. Seperti yang di ungkapkan oleh Zulkifli (1987:56) mengenai manfaat dari permainan untuk anak –anak :

  1. Sarana untuk membawa anak – anak kedalam bermasyarakat.
  2. Mampu mengenal kekuatan sendiri.
  3. Mendapat kesempatan mengembangkan fantasi dan menyalurkan kecenderungan pembawaannya.
  4. Berlatih menempa perasaan.
  5. Memperoleh kegembiraaan, kesenangan, kepuasaan dan
  6. Melatih diri untuk mentaati peraturan yang berlaku.

Namun yang terjadi dilapangan tidaklah demikian. Anak-anak dibebani oleh beban belajar di sekolah yang cukup berat serta menekan kebebasan mereka untuk bergerak. Kebutuhan gerak mereka tidak terpenuhi karena keterbatasan waktu dan kesempatan serta lingkungan sekolah yang tidak menyediakan wilayah yang menarik untuk di jelajahi. Pemberian materi yang hanya mengedapankan dan mengutamakan prestasi akademik juga mengharuskan mereka untuk menerima beban-beban gerak sesuai dengan tuntutan guru yang menghendaki mereka untuk dapat menguasai keterampilan-keterampilan gerak tertentu. Hal demikanlah yang dapat menghilangkan antusias anak untuk melakukan gerak dan tentunya mengurangi waktu aktif belajar gerak pada anak karena mereka merasa terbatasi untuk bergerak, terlebih tuntutan gerak yang terkadang membebani anak membuat anak-anak merasa tidak mampu untuk melaksanakan tugas gerak tersebut sehingga mereka cenderung malas-malasan karena menganggap mereka tidak sanggup untuk melaksanakan tugas gerak yang diberikan.

Pemberian beban yang tidak sesuai dengan kemampuan anak seperti misalnya tuntutan penguasaan teknik dasar olahraga dalam pembelajaran pendidikan jasmani bagi anak di sekolah juga dapat menjadi pemicu berkurangnya waktu aktif belajar gerak pada anak dalam pembelajaran penjas, tidak semua anak mampu menyesuaikan diri mereka terhadap teknik-teknik dasar olahraga, karena merasa tidak mampu pada akhirnya anak merasa takut untuk melaksanakan tuntutan yang diberikan, bahkan anak cenderung malu karena merasa tidak mampu melaksanakan tuntutan yang di berikan di depan teman-temannya, hal itulah yang akhirnya menyebabkan anak bermalas-malasan bahkan cenderung menghindari aktifitas gerak di sekolah yang berimbas pada rendahnya waktu aktif belajar gerak pada anak.

Pada intinya, Kesesuaian penerapan pendekatan mengajar dalam konteks pembelajaran pendidikan jasmani terkadang belum sesuai dengan karakteristik peserta didik. Siswa SD yang masih tergolong ke dalam kelompok anak besar memiliki perilaku yang didominasi oleh kegiatan bermain. Bagi mereka, bermain adalah dunianya. Maka dari itu, pemilihan metode atau pendekatan pembelajaran yang tepat atau sesuai dengan kearakteristik siswa sekolah dasar sangatlah diperlukan. Penerapan pendekatan yang tepat dan sesuai dalam pembelajaran penjas tidak hanya untuk menyesuaikan karakter kegiatan pembelajaran dengan karakter siswa akan tetapi melalui pendekatan yang dipilih tersebut  dapat turut pula merangsang keinginan siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga mampu meningkatkan jumlah waktu aktif belajar gerak siswa dalam pembelajaran tersebut. Dalam pelaksanaan pendidikan jasmani aspek psikomotor bukan hanya sasaran utama pembelajaran, akan tetapi aspek afektif diharapkan juga turut berkembang. Salah satunya adalah perilaku asosiatif yang terdiri dari kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Oleh sebab itu agar sasaran pelakasanaan proses pembelajaran tidak hanya mengacu kepada aspek psikomotor semata namun juga khususnya bagi perkembangan afektif siswa sekolah dasar maka dari itu hal-hal demikan harus dihindari guna tetap memancing respon anak untuk tetap memiliki jumlah waktu aktif belajar gerak yang tinggi serta tetap mengacu kedalam sasaran utama pendidikan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani dan menghindari permasalahan yang dapat mengurangi jumlah waktu aktif belajar gerak anak di sekolah dasar.

Pendidikan jasmani tampil untuk mengatasi masalah tersebut. Di dalam pendidikan jasmani terdapat sebuah pendekatan yang menitik beratkan proses pembelajarannya dalam situasi permainan, pendekatan tersebut adalah pendekatan bermain. Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dikonsep dalam bentuk permainan. Menurut Wahjoedi (1999:121) mengatakan bahwa ”pendekatan bermain adalah pembelajaran yang diberikan dalam bentuk atau situasi permainan”. Sedangkan Yoyo Bahagia dan Adang Suherman (1999/2000:35) berpendapat,

Strategi pembelajaran permainan berbeda dengan strategi pembelajaran skill, namun bisa dipastikan bahwa keduanya harus melibatkan modifikasi atau pengembangan agar sesuai dengan prinsip DAP (developmentally Appropiate Pactice) dan body scalling (ukuran fisik termasuk kemampuan fisik).

Berdasarkan pendapat dari ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dikonsep dalam bentuk permainan. Dalam pelaksanaan pembelajaran bermain menerapkan suatu teknik cabang olahraga kedalam bentuk permainan. Melalui permainan, diharapkan akan meningkatkan motifasi dan minat siswa untuk belajar menjadi lebih tinggi, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal.

Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang mengaplikasikan teknik  ke dalam suatu permainan. Tidak menutup kemungkinan teknik yang buruk atau rendah mengakibatkan permainan kurang menarik. Untuk itu seorang guru harus mampu mengatasinya. Rusli Lutan dan Adang Suherman (2000:35-36) menyatakan, manakala guru menyadari bahwa rendahnya kualitas permainan disebabkan oleh rendahnya kemampuan skill, maka guru mempunyai beberapa pilihan sebagai berikut:

1)    Guru dapat terus melanjutkan aktivitas permainan untuk beberapa lama sehingga siswa menangkap gagasan umum permainan yang dilakukannya.

2)  Guru dapat kembali pada tahapan belajar yang lebih rendah dan membiarkan siswa berlatih mengkombinasikan keterampilan tanpa tekanan untuk menguasai strategi.

3)     Guru dapat merubah keterampilan pada level yang lebih simpel dan lebih dikuasai sehingga siswa dapat konsentrasi belajar strategi bermain.

Pada dasarnya pendekatan bermain merupakan sebuah pendekatan yang berorientasi kepada penyesuaian materi ajar terhadap kebutuhan dan karakteristik anak-anak. Pengemasan situasi pembelajaran kedalam sebuah permainan dapat menumbuhkan keceriaan dan mengembalikan anak-anak kedalam dunia mereka. Keceriaan mendorong siswa untuk mampu mengikuti pembelajaran dengan senang hati, sukarela, dan antusias, sehingga dengan proses pembelajaran yang penuh dengan keceriaan seorang siswa akan memiliki waktu aktif bergerak yang relatif  lama, karena ia melakukan aktifitas dengan sukarela dengan latar belakang keceriaan dalam proses pembelajaran yang berlangsung.

     Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan diatas, penulis merasa tertarik untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara implementasi pendekatan bermain  terhadap jumlah waktu aktif belajar gerak siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar. Untuk itu, penulis melakukan penelitian denga judul “Implementasi Pendekatan Bermain Dalam Upaya Meningkatkan jumlah Waktu Aktif Belajar Gerak Siswa Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Di Sekolah Dasar Negeri Sukarasa 3 Dan 4 Bandung”

Peneliti merumuskan masalah penerlitan sebagai berikut: Apakah Implementasi pendekatan bermain dapat meningkatkan efektivitas jumlah waktu aktif belajar gerak siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar?

Permasalahan yang terkait dengan rendahnya jumlah waktu aktif belajar siswa kelas V A SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung akan di pecahkan dengan cara penerapan pendekatan bermain dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana implementasi atau penerapan pendekatan bermain dapat meningkatkan jumlah waktu aktif belajar gerak siswa kelas V A SD Negeri sukarasa 3 dan 4 Bandung

 

METODE

Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Acton Research sebagai cara untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Menurut Hidayat, (2011;6) menyatakan bahwa “Penelitian Tindakan kelas adalah sebuah kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pembelajaran oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis dan refleksi atas hasil tindakan tersebut”. Dalam pelaksanaannya penelitian tindakan kelas melakukan perbaikan berupa tindakan terhadap sebuah kajian atau permasalahan yang menyangkut proses pembelajaran untuk meningkatkan mutu serta praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai praktisi pembelajaran berdasarkan sejumlah informasi dan tindak lanjut yang terjadi di lapangan untuk segera dikaji dan ditindak lanjuti secara reflektif, partisipatif, dan kolaboratif (Suwarsih, 1994:23).

            Secara singkat penelitian tindakan kelas dapat di artikan sebagai sebuah tindakan praktis yang dilakukan untuk melakukan refleksi terhadap sebuah permasalahan atau kendala-kendala yang ditemukan di dalam proses pembelajaran di kelas untuk memperbaiki mutu praktik dan mutu hasil pembelajaran di kelas agar siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

 

 

SETTING PENELITIAN

            Penelitian ini di laksanakan di lingkungan sekolah SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung yaitu berupa halaman sekolah  dengan luas lapangan 20x15meter dengan pertimbangan bahwa SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung memiliki lapangan yang cukup luasa yang dapat memudahkan peneliti untuk melakukan proses penelitian mengingat proses penelitian yang dilakukan dalam situsi pembelajaran. Proses penelitian dilaksanakan sesuai dengan waktu pembelajaran pendidikan jasmani di SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung yaitu pada hari Kamis mulai pukul 11.00 sampai pukul 12.10 WIB. Subjek penelitian ini ialah siswa kelas V A SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung yang berjumlah 39 orang yang terdiri atas 17 orang siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan.

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan cara observasi langsung dan wawancara dengan menggunakan:

  1. Pedoman observasi dalam bentuk format yang telah dibuat untuk mengumpulkan data berbagai informasi dalam upaya meningkatkan jumlah waktu aktif belajar siswa dalam pemebelajaran pendidikan jasmani.

Adapun format observasi yang digunakan dalam penelitian ini merujuk kepada group time sampling yang dikembangkan oleh Suherman (1998:26) seperti di bawah ini:

Periode Kegiatan Pembelajaran Penjas

20 menit awal KBM menit ke 0 s/d menit ke 20 20 menit awal KBM menit ke 35 s/d menit ke 55 20 menit awal KBM menit ke 70 s/d menit ke 90

Observasi 5 menit ke

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Aspek yang diobservasi

A

B

C

Prosentase A               :

Prosentase B               :

Prosentase C               :

Keterangan:

A           : menunjukan jumlah siswa yang berperilaku baik sesuai dengan tuntutan perilaku umum yang diinginkan oleh guru dalam pembelajaran penjas.

B            : menunjukan jumlah siswa yang melakukan aktivitas tugas gerak sesuai dengan harapan guru.

C            : menunjukan jumlah siswa yang melakukan aktivitas gerak sesuai     pembelajaran.

Prosedur observasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1)      Dimulai 20 menit awal ke 1 (waktu yang tersedia kurang lebih 5 menit), observer mengamati aspek A dari siswa yang berada dibarisan paling kiri sampai barisan paling kanan. Observer menghitung jumlah siswa yang berperilaku sesuai dengan aspek A. Dibutuhkan waktu kurang lebih 30 detik. Jika terjadi perubahan pada siswa yang sudah teramati, misal disebelah kiri, hal itu diabaikan saja.

2)      Setelah aspek A teramati, lakukian pengamatan terhadap aspek B dan C seperti halnya mengamati aspek A. Begitu seterusnya sampai menit ke 4 pada 20 menit awal KBM. Dengan demikianpada setiap periode berarti berjumlah 5 menit dan untuk mengamati ketiga aspek hanya dibutuhkan 90 detik saja.

3)      Lakukan observasi sampai 5 menit ke 4 di 20 menit akhir KBM dilaksanakan.

  1. Wawancara yaitu peneliti dibantu observer melakukan wawancara kepada siswa yang diteliti untuk memperoleh keseluruhan informasi yang diperlukan untuk mncari solusi atas permasalahan yang telah diajukan.
  2. Data perubahan perilaku siswa dalam hal peningkatan jumlah waktu aktif belajar siswa pada pemebelajaran pendidikan jasmani.

PEMBAHASAN

Melalui pelaksanaan penelitian dengan tiga siklus yang telah dilaksanakan telah menunjukan hasil peningkatan yang cukup baik. Berdasarkan data yang telah dipaparkan diatas dapat diketahui peningkatan yang terjadi dari mulai tahap pra observasi atau observasi awal hingga observasi akhir. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dalam tabel berikut ini:

Data Hasil Observasi Awal Hingga Observasi Akhir

Siklus

Tindakan

Indikator

A

B

C

I

I

48%

47%

49%

II

52%

51%

52%

II

I

55%

56%

58%

II

57%

59%

58%

III

I

65%

71%

72%

II

75%

85%

77%

 

Dari tabel diatas dapat diamati bahwa prosentasi jumlah waktu aktif belajar  pada tahap pra observasi menunjukan nilai 42% meningkat 6% dari pelaksanaan siklus I tindakan I yaitu menjadi 48% dan meningkat pula 4% dalam tindakan II menjadi 52%. Serta terjadi peningkatan pula pada siklus II tindakan I sebesar 4% menjadi 56% serta pada tindakan II sebesar 2% menjadi 58% dan terjadi peningkatan pula pada siklus III tindakan I sebesar 11% menjadi 69% dan pada tindakan akhir yaitu tindakan II menghasilkan peningkatan sebesar 11%  menjadi 80% siswa aktif dalam proses pembelajaran.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitan tindakan kelas yang dilaksanakan pada kelas V A SD Negeri Sukarasa 3 dan 4 Bandung dapat diambil kesimpulan bahwa implementasi pendekatan bermain dapat meningkatkan jumlah waktu aktif belajar gerak siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar.

 DAFTAR PUSTAKA

 

Buku:

 

Abduljabar, Bambang. (2011), Manajemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Bandung: FPOK-UPI.

Agustian, Ari ginanjar (2001). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual: ESQ Emotional Spiritual Quotien. Jakarta: Arga

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rhineka Cipta.

Bahagia, Y. Suherman A. (2002. Prinsip-prinsip pengembangan dan modifikasi cabang olahraga. Jakarta: Direktorat Jendra Pendidikan Dasar dan Menengah, depdiknas.

Cholik M., Toho dan Lutan, Rusli, (1996). Pendidikan jasmani dan kesehatan. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Hidayat, Yusuf, (2011), Pedoman Penulisan Penelitian Tindakan Kelas Dalam pendidikan Jasmani, Olahraga, dan kesehatan. Bandung: FPOK-UPI.

Kunandar. (2012). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi guru. Jakarta: PT Raja grafindo Persada.

Mahendra, Agus, (2007), Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Bandung: FPOK-UPI.

Ma’mun, Amung, (2011), Kepemimpinan dan Kebijakan Pembangunan Olahraga. FPOK-UPI. Bandung.

Sugiyono, (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suherman, Adang, (2009), Revitalisasi Pengajaran dalam Pendidikan Jasmani. Bandung: Bintang Wali Artika.

Rudiana, (2009), Never Ending Smart Tidak ada Alasan Untuk Bodoh. Bandung: Rumah Cerdas Indonesia.

Sukidin. et al. (2010). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendikia.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012). Pedoman penuliasan Karya Ilmiah. Bandung: Upi Press.

Wiratmadja, R. (2009). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Website:

Suherman, A. dan Bahagia, Yoyo. (2000). Hakikat Pendekatan Bermain.[Online]. Tersedia: http://mari-berkawand.blogspot.com/2011/08/pengertian-pendekatan-bermain.html[28 Maret, 2013]

Wahjoedi (1999). Pengertian Pendekatan Bermain. [Online]. Tersedia: http://www.AsianBrain.com/index.php?aff_code=487381 [28 Maret 2013]

Zulikifli. (1987). Permainan dan Anak-anak. [Online]. Tersedia: http://www.tokoacc.com/news/8/Permainan-Anak [10 Maret 2013]