Jurnal PGSD Pendidikan Jasmani Volume 1, Nomor 3, Desember 2013 : Mas Athi Sugiarthi – IMPLEMENTASI AKTIVITAS PEMBELAJARAN BASIC GAMES DALAM UPAYA MENINGKATKAN WAKTU AKTIF BELAJAR SISWA KELAS V SDN CISITU 1

IMPLEMENTASI AKTIVITAS PEMBELAJARAN BASIC GAMES DALAM UPAYA MENINGKATKAN WAKTU AKTIF BELAJAR SISWA KELAS V SDN CISITU 1

Mas Athi Sugiarthi

Yoyo Bahagia

Helmy Firmansyah

PGSD Penjas

Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

Universitas Pendidikan Indonesia

masathisugiarthi@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan apakah implementasi aktivitas pembelajaran basic games dapat  meningkatkan waktu aktif belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Cisitu 1 Kota Bandung Jawa Barat selama 1 bulan. Upaya pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian trindakan kelas (PTK) yang disusun berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut: (1) perencanaan tindakan (planning) yang meliputi kegiatan analisis faktor penyebab dan penetapan aksi (2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) pengumpulan data (observing) dan (4) refleksi yang berupa analisis efektivitas tindakan. Serangkaian kegiatan ini merupakan satu siklus. Berdasarkan hasil penelitian didapat hasil jumlah waktu aktif belajar pada tindakan 1 sebesar 65,1%, tindakan 2 sebesar 70,6%, tindakan 3 sebesar 53,5% dan tindakan 4 sebesar 75,6%.

Berdasarkan analisis data penelitian selama siklus I dan II dapat disimpulkan bahwa jumlah waktu aktif belajar siswa meningkat setelah siswa mengikuti pembelajaran penjas dengan implementasi aktivitas pembelajaran basic games.

 

Kata-kata kunci: Waktu Aktif Belajar, Basic Games.

Belajar merupakan hal yang sangat penting dalam usaha memperoleh ilmu pengetahuan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah yang diakibatkan oleh belajar itulah maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada mahluk-mahluk lainnya. Salah satu perubahan yang diakibatkan oleh belajar adalah perubahan perilaku.

Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang dapat membantu proses perubahan perilaku tersebut. Pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik, tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia karena disamping berorientasi pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak, pendidikan jasmani juga menekankan pada pembentukan karakter anak. Seperti yang dipaparkan oleh Mahendra (2007: 9) pendididkan jasmani pada hakikatnya merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

Pendidikan jasmani merupakan proses pembelajaran yang memanfaatkan aktivitas fisik atau gerak dalam pelaksanaannya yang berorientasi kepada dunia anak dan menyesuaikan materi-materi didalamnya sesuai dengan kebutuhan anak. Upaya untuk melibatkan peserta didik secara aktif dalam penjas yaitu jumlah waktu aktif belajar yang menjadi dasar dalam pendidikan. Waktu aktif belajar yaitu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan uraian yang diungkapkan oleh Suherman (2009:114) bahwa jumlah waktu aktif belajar yaitu waktu yang dihabiskan oleh sebagian besar siswa (>50%) untuk melakukan aktivitas belajar secara aktif.

Faktanya, dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar pemberian materi pembelajaran terkadang tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa sekolah dasar. Pemberian materi pembelajaran yang tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa dapat mengurangi antusias anak untuk melakukan tugas gerak yang diberikan. Karena merasa tidak mampu untuk melaksanakan tugas gerak yang diberikan, terkadang anak cenderung merasa malas untuk melakukan tugas gerak. Hal itu tentu berdampak besar terhadap waktu aktif belajar.

Meningkat atau menurunnya waktu aktif belajar siswa ini dapat diketahui dengan analisis waktu dalam proses belajar mengajar, analisis ini melibatkan kategori aktivitas yang dilakukan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.

Pembelajaran penjas hendaknya disusun semenarik mungkin agar semangat anak untuk mengikuti pembelajaran penjas dapat terjaga. Pembelajaran yang disusun dalam bentuk permainan biasanya lebih menarik dan membuat anak lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Karena dalam bermain anak tidak harus memikirkan aturan-aturan yang seringkali malah menghambat permainan itu sendiri, yang terpenting semua anak terlibat dalam permainan dan senang ketika mengikuti permainan itu sendiri. Seperti yang diungkap oleh Bahagia (2010:3) bahwa dalam konteks pembelajaran penjas, menang atau kalah tidaklah penting, yang penting adalah tentang bagaimana anak tersebut dapat terlibat aktif dan mendapatkan kesenangan serta kepuasan dalam permainan tersebut.

Bermain merupakan suatu aktivitas yang dapat dilakukan oleh semua orang, dari anak-anak hingga orang dewasa. Pada masa anak-anak, bermain merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Bahkan para ahli pendidikan mengatakan bahwa anak-anak identik dengan bermain, karena hampir semua hidupnya tidak lepas dari bermain.

Sebagaimana sifatnya, anak-anak akan mudah terbangkit minatnya untuk bermain. Siswa yang terbangkit semangatnya akan melanjutkan kegiatannya dan melupakan segala kelelahan yang dialaminya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permainan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar sukarela tanpa paksaan dan tak sungguhan dalam batas waktu, tempat dan ikatan peraturan.

Salah satu permainan yang digunakan dalam penelitian ini adalah permainan dasar (basic games), yaitu permainan-permainan yang aturan dan cara bermainnya bisa kita modifikasi sesuai kebutuhan, sehingga permainannya tidak terlalu terikat peraturan seperti permainan formal pada umumnya. Hal ini sesuai dengan uraian yang diungkap oleh Hendrayana (2003:11) bahwa basic games adalah permainan yang berada diluar wilayah permainan formal yang umumnya sudah berkembang dengan adanya aturan baku dan organisasi yang mengelolanya, seperti sepakbola, tenis, voli, dsb.

Dengan sifat yang demikianlah sebaiknya pembelajaran pendidikan jasmani dilaksanakan sehingga motivasi anak untuk melanjutkan pembelajaran dapat terjaga. Salah satu bentuk materi permainan adalah basic games. Basic games adalah permainan yang berada diluar wilayah permainan formal yang umumnya sudah berkembang dengan adanya aturan baku dan organisasi yang mengelolanya.

Berdasarkan analisis hubungan sebab akibat antara sifat-sifat atau ciri-ciri dari pembelajaran basic games dan karakteristik anak di usia sekolah dasar tersebut diatas maka diduga bahwa implementasi pembelajaran basic games dapat meningkatkan waktu aktif belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani.

METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan salah satu dari penelitian tindakan, penelitian tindakan itu sendiri adalah penelitian yang dilakukan oleh seseorang baik itu guru, karyawan, dll., untuk memperbaiki kondisi (pengajaran) atau situasi dengan cara mengimplementasikan sesuatu hal terhadap kondisi di lapangan, kemudian hasil dari penelitian tersebut direflesikan kembali pada penelitian selanjutnya jika penelitian pertama belum berhasil atau mencapai target yang diinginkan. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama kurang lebih 1 bulan pada tahun ajaran 2013/2014 yang dilaksanakan yang disesuaikan dengan jadwal pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan SDN Cisitu 1 Kota Bandung. Subjek penelitian dalam PTK ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 38 orang, terdiri dari 19 orang putra dan 19 orang putri. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah format observasi group time sampling yang digunakan untuk menghitung jumlah waktu aktif belajar siswa, kartu ceria yang digunakan untuk tes sikap dan catatan data lapangan yang digunakan untuk melaporkan hasil observasi, refleksi dan reaksi terhadap masalah-masalah selama penelitian berlangsung.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Secara garis besar teknik analisis data dilakukan dalam tahapan-tahapan berikut: (1) menelaah seluruh data yang telah terkumpul, penelaahan dilakukan dengan cara menghitung data dari lembar observasi dan kartu ceria. (2) Data yang sudah terkumpul dan dihitung kemudian dipersentasekan agar lebih mudah untuk membaca hasilnya. (3) Dibuat kalimat sesuai dengan hasil dari analisis data. (4) Mengevaluasi hasil dari penelitian tentang kekurangan dari penelitian tersebut untuk diperbaiki dan diterapkan pada siklus berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data lengkap hasil penelitian yang terkumpul disajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 1

Hasil Olah Data Pra-Observasi

Periode KBM Penjas

Awal

Tengah

Akhir

Jumlah

Pers entase

Observasi 5 menit ke:

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Perilaku Siswa

A

29

30

23

22

19

21

19

24

13

16

13

16

245

53.7 %

B

18

22

20

18

17

20

19

21

18

17

15

20

225

49.3 %

C

25

31

22

20

25

18

13

19

16

19

18

16

242

53.1 %

D

15

12

20

21

24

19

10

18

9

10

11

19

188

41.2 %

Tabel 2

Hasil Olah Data Siklus 1 Tindakan 1

Periode KBM Penjas

Awal

Tengah

Akhir

Jumlah

Pers entase

Observasi 5 menit ke:

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Perilaku Siswa

A

23

20

21

20

23

27

22

22

24

23

24

23

272

59.6%

B

25

21

24

24

24

26

25

23

26

24

27

28

297

65.1%

C

23

22

20

21

21

25

20

21

23

20

22

25

263

57.7%

D

23

23

24

23

22

21

22

21

22

20

24

24

269

58.9%

Tabel 3

Hasil Olah Data Siklus 1 Tindakan 2

Periode KBM Penjas

Awal

Tengah

Akhir

Jumlah

Pers entase

Observasi 5 menit ke:

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Perilaku Siswa

A

24

23

24

24

22

20

21

20

24

25

24

24

275

60.3%

B

22

25

27

28

27

26

27

25

28

29

28

30

322

70.6%

C

20

20

21

22

20

24

25

25

26

24

23

25

275

60.3%

D

22

20

20

21

22

22

23

23

24

21

24

25

267

58.5%

Tabel 4

Hasil Olah Data Siklus 2 Tindakan 1

Periode KBM Penjas

Awal

Tengah

Akhir

Jumlah

Pers entase

Observasi 5 menit ke:

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Perilaku Siswa

A

18

17

20

21

18

17

20

19

17

12

18

17

214

46.9%

B

22

21

20

21

20

19

22

21

19

21

20

18

244

53.5%

C

15

14

15

17

15

14

17

13

12

17

16

16

181

39.6%

D

14

14

24

18

19

19

19

19

26

21

19

21

233

51.1%

Tabel 5

Hasil Olah Data Siklus 2 Tindakan 2

Periode KBM Penjas

Awal

Tengah

Akhir

Jumlah

Pers entase

Observasi 5 menit ke:

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Perilaku Siswa

A

14

12

13

14

13

10

13

12

11

12

10

14

148

32.4%

B

28

27

27

28

28

32

30

31

30

28

29

27

345

75.6%

C

13

10

15

9

10

13

16

15

10

12

15

8

146

32.1%

D

14

12

14

10

20

10

14

12

10

20

9

15

160

35.1%

Tabel 6

Perbandingan Jumlah Waktu Aktif Belajar Tiap Tindakan

PTK

DATA AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

Tindakan 1

Tindakan 2

Tindakan 3

Tindakan 4

(49,3 – 65,1) 32,1%

 

 

 

 

(65,1 – 70,6) 8,4%

 

 

 

 

(70,6 – 53,5) -24,2%

 

 

 

 

(53,5 – 75,6) 41,3%

(49,3 – 67,8) 37,5%

 

 

 

(67,8 – 64,5)  -4,8%

(49,3 – 75,6)  53,3%

Hasil-hasil penelitian itu menunjukkan peningkatan maupun penurunan jumlah waktu aktif belajar tiap tindakan penelitian. Salah satu faktor penyebab peningkatan atau penurunan tersebut adalah materi pembelajaran yang diberikan oleh peneliti. Berdasarkan tabel diatas, terdapat peningkatan jumlah waktu aktif belajar dari data awal ke tindakan 1 sebanyak 32,1%. Begitupun di tindakan selanjutnya yaitu tindakan 1 ke tindakan 2 jumlah waktu aktif belajar siswa mengalami kenaikan sebesar 8,4%. Sementara dari tindakan 2 ke tindakan 3 terdapat penurunan jumlah waktu aktif belajar  siswa sebesar 24,2% dikarenakan materi yang diberikan pada penelitian tindakan ketiga ini cenderung membosankan yang mengakibatkan kebanyakan siswa cepat bosan dan lebih memilih diam daripada melakukan kegiatan pembelajaran. Namun jumlah waktu aktif belajar siswa ini kembali mengalami peningkatan dari tindakan 3 ke tindakan 4 sebesar 41,3%.

Selain membandingkan seberapa besar peningkatan dan penurunan dari tiap tindakan, peneliti juga membandingkan peningkatan dari tiap siklus. Dari data awal  ke siklus 1 terdapat peningkatan jumlah waktu aktif belajar siswa sebesar 37,5%. Tetapi jumlah waktu aktif belajar ini mengalami penurunan sebesar 4,8% dari siklus 1 ke siklus 2. Sementara peningkatan jumlah waktu aktif belajar siswa secara keseluruhan dari data awa ke siklus terakhir sebesar 53,3%.

KESIMPULAN

Penelitian tindakan kelas tentang implementasi aktivitas pembelajaran basic games dalam upaya meningkatkan waktu aktif belajar telah dilaksanakan dalam 2 siklus kegiatan, menghasilkan kesimpulan bahwa implementasi aktivitas pembelajaran basic games dapat meningkatkan jumlah waktu aktif belajar siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hendrayana, Yudi. (2003). Pembelajaran Permainan Dasar. Bandung: Depdiknas dan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mahendra, Agus. (2007). Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Bandung: FPOK UPI.

Mulyasa, H.E. (2009). Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suherman, Adang. (2009). Revitalisasi Pengajaran dalam Pendidikan Jasmani. Bandung: CV. Bintang WarliArtika.

Suyadi. (2010). Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta: DIVA Press.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI Press.