Jurnal PGSD Pendidikan Jasmani, Volume 1, Nomor 3, Desember 2013: Dhea Amelia Pratiwi – IMPLEMENTASI PENDEKATAN BERMAIN DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN GERAK DASAR MELEMPAR DAN MENANGKAP MELALUI AKTIVITAS BASKET BALL LIKE GAMES

Jurnal PGSD Pendidikan Jasmani, Volume 1, Nomor 3, Desember 2013: Dhea Amelia Pratiwi – IMPLEMENTASI PENDEKATAN BERMAIN DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN GERAK DASAR MELEMPAR DAN MENANGKAP MELALUI AKTIVITAS BASKET BALL LIKE GAMES

IMPLEMENTASI PENDEKATAN BERMAIN DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN GERAK DASAR MELEMPAR DAN MENANGKAP MELALUI AKTIVITAS BASKET BALL LIKE GAMES

Dhea Amelia Pratiwi

Drs. Yoyo Bahagia

Lukmannul Haqim Lubay

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR PENDIDIKAN JASMANI

JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

e-mail : dhea.amelia91@gmail.com

Implementasi Pendekatan Bermain Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Keterampilan Gerak Dasar Melempar dan Menangkap Melalui Aktivitas Basket Ball Like Games Penelitian Tindakan Kelas pada Kelas VI di SDN 3 Ciharashas Bandung Barat. The Playing Approach Implementation in Attempt to Increase the Basic Movement Skills Learning Result on Throwing and Catching Through Basket Ball Like Games Activity Classroom Action Research on Grade VI in Elementary School 3 of Ciharashas Bandung Barat.

ABSTRAK (ABSTRACT)

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan apakah implementasi pendekatan bermain melalui basket ball like games dapat meningkatkan keterampilan gerak dasar lempar tangkap pada siswa kelas VI. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 3 Ciharashas Bandung Barat. Pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan pendekatan bermain melalui basket ball like games dalam bentuk permainan ten ball dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, catatan lapangan, kamera foto, dan evaluasi berupa tes pengukuran lempar tangkap bola. Berdasarkan hasil penelitian didapat hasil belajar tes praktek lempar tangkap bola siswa pada pra siklus sebesar 38.046, pada siklus 1 sebesar 38.512, pada siklus 2 sebesar 40.209

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, maka kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah dengan modifikasi pembelajaran penjas melalui penerapan pendekatan bermain berupa basket ball like games maka kemampuan siswa dalam pembelajaran akan semakin meningkat.

This research aimed to disclose if the playing approach implementation in through basket ball like games could increase the basic movement skills of throwing and catching on grade VI students in Elementary school 3 Ciharashas Bandung Barat. Problem solving in this research is by implementing playing approach through basket ball like games in form of ten ball games in physical education learning. Research method which used in this research is classroom action research method. Instrument which used in this research are observation sheets, field notes, camera, and evaluation in form of ball throwing and catching measurement test. Based on research result obtained learning result of student’s practical examination in ball throwing and catching on pre cycle were as many as 38,046, on cycle1 were as many as 38,512, on cycle 2 were as many as 40,209.

Based on data processing and analysis result, the conclusion of this research is by modifying the physical education learning through playing approach such as basket ball like games, then students’ ability in learning will more increasing.

Kata-kata kunci: Hasil Belajar, Basket Ball Like Games. Key words: Learning Result, Basket Ball Like Games.

 

Walaupun Pendidikan jasmani sering didefinisikan dalam redaksi yang beragam, namun pada umumnya pandangan tersebut didasarkan pada bagaimana orang tersebut memandang manusia itu sendiri. Pandangan pertama, yang juga sering disebut pandangan tradisional, menganggap bahwa manusia itu sendiri dari dua komponen utama yaitu jasmani dan rohani (dikhotomi). Pandangan ini menganggap bahwa pendidikan jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Dengan kata lain, pendidikan jasmani hanya sebagai pelengkap saja. Dalam Suherman (2009:3) pandangan terhadap pendidikan jasmani seperti itu dapat kita amati pada Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 Bab VI pasal 9 sebagai berikut, “Pendidikan jasmani yang menuju keselarasan antara tumbuhnya badan dan perkembangan jiwa dan merupakan usaha untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat kuat lahir dan batin, diberikan pada seluruh jenjang pendidikan.”

Pandangan pendidikan jasmani berdasarkan pandangan dikhotomi manusia ini secara empirik menimbulkan salah kaprah dalam merumuskan tujuan program pelaksanaan, dan penilaian pendidikan jasmani. Dari kenyataan menunjukan bahwa pelaksanaan pendidikan jasmani ini cenderung mengarah kepada upaya memperkuat badan, memperhebat keterampilan fisik, atau kemampuan jasmaniahnya, selain dari itu sering juga pelaksanaan pendidikan jasmani ini justru mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Robert Gensemer (Freeman, 2001) dalam Mahendra (2007:4), bahwa: “Pendidikan jasmani diistilahkan sebagai proses menciptakan ‘tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.’ Artinya, dalam tubuh yang baik diharapkan pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.”

Pendidikan merupakan proses untuk membantu individu agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Pendidikan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas manusia baik individu maupun kelompok, baik jasmani, rohani, spiritual, material maupun kematangan berpikir, dengan kata lain untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia dapat diamati dari wajibnya pendidikan jasmani diselenggarakan di setiap jenjang dan tingkat pendidikan, dari mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas, bahkan ada beberapa Perguruan Tinggi (PT) yang mewajibkan seluruh mahasiswanya mengikuti perkuliahan Penjas dan olahraga dengan jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) tertentu.

Eksistensi Penjas dalam lingkup sistem pendidikan nasional tidak terlepas dari suatu keyakinan terhadap nilai-nilai Penjas yang terkandung di dalamnya, yang jika diselenggarakan dalam situasi dan kondisi pendidikan yang kondusif akan memberikan kontribusi yang cukup berarti terhadap pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Juliantine et al. (2012:6) :

Penjas merupakan alat pendidikan yang menggunakan aktivitas fisik dan olahraga sebagai media untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Penjas bukan hanya mengembangkan aspek fisik semata, melainkan juga mengembangkan aspek-aspek kognitif, emosi, mental, sosial, moral, dan estetika. Banyak peneliti yang menemukan eratnya hubungan antara Penjas dengan perkembangan kognitif, mental, sosial, moral dan estetika. Begitu pula pengaruh positif Penjas terhadap perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor. Penjas dapat merangsang fungsi simpul-simpul syaraf, sehingga secara neurologi Penjas dapat mengembangkan kemampuan akademik siswa. Selain itu, aktivitas fisik dan olahraga yang diselenggarakan dalam Penjas dapat mengembangkan keserasian, keindahan, dan kecantikan tubuh.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui Penjas keselarasan dan keseimbangan hidup jasmani dan rohani dapat dipelihara dan ditingkatkan. Pada dasarnya pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dan sekaligus merupakan proses pendidikan untuk meningkatkan aktivitas rohani. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani pun mencakup pengembangan individu secara menyeluruh artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya terfokus pada aspek fisik saja melainkan juga aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual.

Secara umum tujuan pendidikan jasmani yang dikemukakan oleh Bucher (1964) dalam Suherman (2009:7) dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Perkembangan fisik. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh seseorang (physical fitness).
  2. Perkembangan gerak. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan gerak secara efektif, efisien, halus, indah, dan sempurna (skillfull).
  3. Perkembangan mental. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan berpikir dan menginterpretasikan keseluruhan pengetahuan tentang pendidikan jasmani ke dalam lingkungannya sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab siswa.
  4. Perkembangan sosial. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat.

Jadi tujuan penjas tersebut harus bisa dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang direncanakan secara matang dan terencana, dengan demikian hal terpenting untuk disadari oleh guru pendidikan jasmani adalah bahwa ia harus mempersiapkan program pembelajaran yang sesuai dengan tujuan penjas itu sendiri.

Dalam kurikulum pendidikan jasmani terdapat beberapa ruang lingkup yang dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam berolahraga yaitu aktivitas permainan, aktivitas pengembangan, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas, dan kesehatan. Penulis dalam penelitian ini menggunakan salah satu ruang lingkup yang terdapat dalam kurikulum yaitu aktivitas permainan atau lebih tepatnya implementasi pendekatan bermain.

Permainan merupakan salah satu bentuk kegiatan jasmani. Oleh sebab itu permainan atau bermain mempunyai tugas dan tujuan yang sama dengan tugas dan tujuan pendidikan jasmani. Salah satu aktivitas permainan yang terdapat dalam kurikulum dan mempunyai daya tarik siswa adalah permainan bola basket, melalui permainan bola basket diharapkan dapat disukai oleh siswa di sekolah-sekolah. Sehingga para siswa baik tingkat SD, SMP maupun SMA mulai masuk atau terlibat dalam klub-klub atau perkumpulan basket usia dini. Salah satu faktor lain yang menjadi hambatan dalam terlaksananya pembelajaran permainan bola basket adalah mengenai sarana yang disediakan di sekolah kurang memadai, banyak sekolah-sekolah tidak memiliki lapangan basket diakibatkan karena lahan atau biaya yang tidak murah. Selain itu, faktor lain yang menjadi penghambat yaitu faktor guru. Guru harus bisa menciptakan suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan agar siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran yang diberikan guru, sehingga hasil belajar menjadi lebih baik dan tujuan pembelajaran pun tercapai.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran penjas khususnya permainan bola basket yaitu pembelajaran kurang merangsang minat belajar atau tidak meningkatnya kemampuan siswa bermain ini disebabkan oleh pendekatan tradisional yang terlalu dominan sehingga waktu belajar terlalu banyak dihabiskan untuk latihan-latihan teknik dasar/drill oleh guru, sehingga siswa merasa bosan dan tidak mengalami proses permainan yang sebenarnya selain itu juga penggunaan bola basket sesungguhnya membuat ketakutan tersendiri bagi siswa karena rasa sakit yang ditimbulkan pada saat melakukan gerak dasar bermain bola basket sehingga siswa kurang tereksplorasi kebutuhannya dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, bila permasalahan ini tidak segera diatasi maka hasil belajar siswa pun tidak tercapai. Untuk memecahkan permasalahan ini, salah satunya memerlukan implementasi pendekatan bermain melalui aktivitas basket ball like games.

Permainan bola basket di sekolah dasar merupakan salah satu kegiatan/belajar dalam pendidikan jasmani untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik (psikomotor), pengetahuan dan penalaran (kognitif), serta penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-spiritual-sosial).

Melalui implementasi pendekatan bermain pembelajarannya menekankan proses perpaduan antara taktik dan teknik permainan dalam waktu bersamaan, melalui proses itu siswa dapat memahami hakikat dari pembelajaran bola basket secara utuh dan sekaligus keterampilan bermain bola basket akan turut terlatih.

Bahagia (2010:134), mengemukakan:

Basket ball like games adalah permainan-permainan yang menyerupai permainan basket. Ini dilakukan karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki sekolah-sekolah terhadap permainan dan perlengkapan basket. Cara memainkan permainan baske ball like games ini adalah dengan passing intercepting dengan menggunakan tangan, dan membuat skorenya dengan jalan memasukan bola ke dalam sasaran berupa keranjang atau apapun. Perlengkapan permainan yang diperlukan sangat sederhana yaitu berupa bola dari bahan apapun asal mudah untuk dioper-operkan dan mudah untuk ditangkap.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Implementasi pendekatan bermain dalam upaya meningkatkan hasil belajar keterampilan gerak dasar melempar dan menangkap melalui aktivitas basket ball like games”. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan terhadap siswa kelas VI di SDN 3 Ciharashas Kabupaten Bandung Barat.

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana upaya untuk meningkatkan hasil belajar keterampilan gerak dasar melempar dan menangkap bola melalui aktivitas basket ball like games pada siswa kelas VI di SDN 3 Ciharashas Kabupaten Bandung Barat. Tujuan khususnya yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar bola basket aktivitas basket ball like games baik keterampilan gerak dasar maupun kemampuan bermain bola basket yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Implementasi pendekatan bermain melalui aktivitas basket ball like games di sekolah dasar akan memberikan suasana baru secara holistik, apakah dari aspek minat, kegembiraan, pengetahuan, pemahaman, kemampuan, disiplin dan kerjasama, sehingga proses pembelajaran menggiring kepada eksplorasi potensi-potensi peserta didik karena pendekatan ini menawarkan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dari konsep-konsep yang telah dipaparkan di atas, bila implementasi pendekatan bermain ini diterapkan seperti pada langkah-langkah PTK, maka diduga akan meningkatkan hasil belajar keterampilan gerak dasar melempar dan menangkap melalui aktivitas basket ball like games  pada siswa kelas VI SDN 3 Ciharashas.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan salah satu  dari penelitian tindakan, penelitian tindakan itu sendiri adalah penelitian yang dilakukan oleh seseorang baik itu guru, karyawan, dll, untuk memperbaiki kondisi (pengajaran) atau situasi dengan cara mengimplementasikan sesuatu hal terhadap kondisi di lapangan, kemudian hasil dari penelitian tersebut direfleksikan kembali pada penelitian selanjutnya jika penelitian pertama belum berhasil atau mencapai target yang diinginkan. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama kurang lebih satu bulan pada tahun ajaran 2013/2014 yang dilaksanakan yang disesuaikan dengan jadwal pembelajaran pendidikan jasamani di sekolah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 3 Ciharashas Kabupaten Bandung Barat. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN 3 Ciharashas Bandung Barat dan objek penelitian ini adalah siswa kelas VI A yang berjumlah 43 orang siswa terdiri dari 20 siswa putra dan 23 siswa putri. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, catatn lapangan, dan evaluasi berupa tes pengukuran lempar tangkap bola.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Secara garis besar teknik analisis data dilakukan dalam tahapan-tahapan berikut: (1) menelaah seluruh data yang telah terkumpul, penelaahan dilakukan dengan cara menghitung data dari hasil tes lempar tangkap bola. (2) data yang sudah terkumpul dihitung kemudian dirata-ratakan agar lebih mudah untuk membaca hasilnya. (3) dibuat kalimat sesuai dengan hasil dari analisis data. (4) mengevaluasi hasil dari penelitian tentang kekurangan dari penelitian tersebut untuk diperbaiki dan diterapkannya pada siklus berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil belajar tes praktek keterampilan gerak dasar lempar tangkap bola basket

Tabel 1

Nilai Hasil Tes Praktek Lempar Tangkap Bola Basket Tiap Siklus

No.

Nama

Nilai

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

1. Agil

43

54

60

2. Alzihan

27

23

31

3. Anas

56

36

50

4. Andini

18

29

35

5. Angga

51

63

62

6. Arif

50

51

55

7. Asri

50

30

36

8. Astri

32

26

33

9. Asyifa

28

21

26

10. Chetiana

51

64

64

11. Dhea

36

27

30

12. Fadillah

29

37

43

13. Fenty

17

26

33

14. Helmi

54

65

64

15. Iqbal

63

49

52

16. Irvan

46

42

48

17. Jaenal

28

33

44

18. Kamaludin

59

42

45

19. Laisa

50

36

31

20. Lisma

22

19

18

21. Sidiq

52

71

69

22. M. Andrie

45

35

37

23. Apip

50

58

58

24. M. Rifal

62

46

43

25. Mutiara

33

26

28

26. Nanda

45

29

32

27. Nazhif

49

50

54

28. Rendi

41

50

51

29. Risma

10

18

13

30. Rifqi

54

65

65

31. Rizqi

47

55

56

32. Rizki

56

59

55

33. Salma

15

21

15

34. Suci

18

29

24

35. Suetlana

27

26

30

36. Syifa

29

22

17

37. Tati

23

36

43

38. Wandi

27

24

18

39. Eriksa

21

20

20

40. Desti

41

43

37

41. Bernika

51

52

52

42. Septia

16

23

28

43. Sofia

14

25

24

Jml

1636

1656

1729

Nilai Min

10

18

17

Nilai Max

63

71

69

Rata-rata

38.046

38.512

40.209

Berdasarkan data tersebut di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan tes praktek siswa tentang lempar tangkap bola basket pada pra siklus hanya memperoleh nilai rata-rata 38.046 sedangkan setelah dilakukan tindakan yaitu pembelajaran dengan mengimplementasikan pendekatan bermain melalui basket ball like games pada siklus 1 memperoleh nilai rata-rata sebesar 38.512 dan pada siklus 2 meningkat sebesar 40.209. Lebih jelasnya tentang peningkatan tes praktek lempar tangkap bola basket siswa dapat dilihat dari grafik di bawah ini.

Grafik 1

Grafik Nilai Rata-rata Tes Praktek Lempar Tangkap Bola Basket

 

Berdasarkan grafik di atas, maka jelas terlihat bahwa terjadi kenaikan nilai rata-rata pada setiap siklusnya. Untuk siklus 1, hasil tes praktek lempar tangkap bola basket siswa masih belum dikatakan berhasil. Sementara itu, untuk siklus 2 nilai rata-rata sudah berhasil sesuai yang direncanakan peneliti yaitu terdapat peningkatan dari tiap siklus. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran pada siklus 1 dan siklus 2 telah memenuhi kriteria keberhasilan belajar siswa yang sudah direncanakan oleh peneliti. Sehingga pembelajaran telah dianggap tuntas berdasarkan analisis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas dengan menggunakan implementasi pendekatan bermain melalui basket ball like games ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa setelah diterapkannya pendekatan bermain melalui basket ball like games terdapat peningkatan hasil belajar dan peningkatan aktivitas belajar, dapat dilihat dari peningkatan persentase rata-rata pada setiap siklus pembelajarannya. Pada siklus 1 diperoleh rata-rata hasil belajar tes praktek lempar tangkap bola siswa pada pra siklus sebesar 38.046, pada siklus I sebesar 38.512, pada siklus II sebesar 40.209.

DAFTAR PUSTAKA

Bahagia, Y. (2010). Modul Permainan Invasi. Bandung: FPOK UPI.

Hidayat, Y. (2011). Buku Pedoman Penulisan Penelitian Tindakan Kelas dalam Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Bandung: FPOK UPI.

Juliantine, T et al. (2012). Modul Belajar dan Pembelajaran Penjas. Bandung: FPOK UPI.

Mahendra, A. (2007). Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Bandung: FPOK UPI.

Suherman, A. (2009). Revitalisasi Pengajaran dalam Pendidikan Jasmani. Bandung: CV. Bintang Warli Artika.

By | 2013-12-23T05:01:14+07:00 December 23rd, 2013|Artikel|0 Comments

About the Author: